Kanalsumbawa, Sumbawa Barat – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat mulai merealisasikan konsep pariwisata kerakyatan melalui pembangunan Jogging Track Brang Ene di Kecamatan Brang Ene. Destinasi wisata berbasis alam tersebut akan melintasi empat desa dengan panorama persawahan, sungai, kawasan hutan, hingga area Bendungan Tiu Suntuk yang selama ini dikenal memiliki potensi wisata alami.
Program itu diproyeksikan menjadi salah satu ikon wisata baru di Kabupaten Sumbawa Barat sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat desa. Pemerintah daerah tidak hanya menyiapkan infrastruktur wisata, tetapi juga mendorong keterlibatan warga sebagai pengelola utama kawasan tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sumbawa Barat, Nurdin Rahman, SE, mengatakan pengelolaan jogging track nantinya akan dilakukan melalui skema BUMDes Bersama. Empat desa yang dilalui lintasan akan terlibat langsung dalam pengelolaan destinasi wisata tersebut.
“Semangat utama dari program ini adalah pariwisata kerakyatan. Karena itu, pengelolaan jogging track nantinya akan dilakukan secara bersama oleh empat desa yang dilalui lintasan tersebut,” ujar Nurdin, Rabu (15/4/2026).
Empat desa yang akan terlibat yakni Desa Manemeng, Mura, Kalimantong, dan Desa Mujahidin. Pemerintah berharap model pengelolaan bersama tersebut mampu menciptakan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan wisata.
Menurut Nurdin, konsep wisata yang dikembangkan mengadopsi pola wisata hijau berbasis masyarakat seperti yang diterapkan di Desa Bilebante, Lombok Tengah. Namun di Brang Ene, pemerintah kabupaten mengambil peran dalam penyediaan infrastruktur utama melalui dukungan APBD.
“Kalau di Bilebante fasilitasnya banyak disiapkan desa. Di Brang Ene ini pemerintah kabupaten yang menyiapkan infrastruktur, sementara pengelolaannya nanti tetap bisa dilakukan oleh BUMDes Bersama,” jelasnya.
Ia mengungkapkan seluruh dokumen perencanaan proyek kini telah rampung. Mulai dari masterplan kawasan, Detail Engineering Design (DED), hingga dukungan anggaran pembangunan sekitar Rp6 miliar yang telah dialokasikan melalui APBD 2026.
Lintasan jogging track dirancang sepanjang kurang lebih lima kilometer dengan lebar sekitar dua meter. Jalur tersebut akan mengikuti pematang sawah dan tepian alam terbuka sehingga pengunjung dapat menikmati suasana pedesaan dan bentang alam Brang Ene secara langsung.
Selain lintasan utama, pemerintah juga menyiapkan sejumlah shelter atau titik pemberhentian yang akan dilengkapi spot foto dan area usaha kuliner. Keberadaan fasilitas itu diharapkan dapat menjadi ruang usaha baru bagi masyarakat lokal melalui penjualan makanan tradisional maupun layanan wisata lainnya.
“Di setiap titik pemberhentian akan ada ruang bagi masyarakat untuk terlibat, baik melalui usaha kuliner maupun layanan wisata lainnya. Ini yang menjadi inti dari pariwisata kerakyatan,” pungkas Nurdin. (Admin01-KS)







