Kanalsumbawa, Sumbawa Barat | Keberadaan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Gunung Lamunga di Desa Lamunga Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) memberikan berkah tersendiri bagi puluhan tukang ojek yang mangkal di sepanjang jalur menuju tambang Gunung Lamunga.

Betapa tidak, jasa ojek menjadi pilihan pelaku tambang untuk mengangkut material batuan dari lokasi tambang menuju tempat pengolahan tong dan gelondong. Dalam sehari para ojek mampu mengais rezeki hingga jutaan rupiah setiap harinya.

Meski keberadaan tambang emas gunung Lamunga dianggap sebagian kalangan illegal, namun bagi para penunggang kuda besi di kawasan itu legalitas bukanlah urusan mereka. Hadirnya penambang baik dari luar wilayah maupun warga Sumbawa Barat sendiri membuat para pengojek yang berada di lokasi itu kebanjiran cuan.

Menurut pengakuan warga setempat, terdapat sisi lain dari kegiatan PETI karena dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi pengangguran, dan memicu pertumbuhan ekonomi lokal. Sehingga kesempatan ini oleh sebagian warga dimanfaatkan dengan menjadi ojek angkut material batu tambang.

“Aktivitas PETI dapat menopang hidup sebagian warga, terutama warga yang berprofesi sebagai ojek angkut material tambang. Mereka sangat terbantukan karena setiap hari memperoleh pemasukan,” tegas Man salah seorang ketua RT di Desa Lamunga, Selasa, 4 Agustus 2025.

Ia menjelaskan, pendapatan ojek meningkat drastis sejak kehadiran PETI tahun 2010 silam dan menjadi solusi dalam mengatasi kesulitan ekonomi masyarakat. Dengan prospek yang sangat tinggi, ojek panggul material menjadi pekerjaan yang sangat menjanjikan.

“Masyarakat begitu bersemangat menjadi ojek ditengah ekonomi sulit seperti saat ini, tentunya masyarakat sangat terbantukan dengan berprofesi sebagai ojek panggul material dan masyarakat menggantungkan kehidupan mereka dari PETI,” jelasnya.

Ia merincikan, bahwa pendapatan harian yang diperoleh para ojek sangat fantastis dengan nominal yang variatif tergantung kemampuan personal dalam mengangkut material setiap harinya.

“Satu karung batu material dihargakan Rp40ribu, satu kali jalan bisa mengangkut 5 karung batu dengan pendapatan Rp200ribu. Sehari para ojek minimal mengangkut sampai 5 kali dengan estimasi penghasilan tembus Rp1juta per harinya. Bisa dibayangkan manfaat dari kehadiran PETI,” paparnya.

Ryan salah satu tukung Ojek kepada Jurnalis media ini mengaku, aktivitas pertambangan emas Gunung Lamunga tidak hanya membawa keuntungan bagi para penambang, namun hal ini juga berdampak positif bagi dirinya dan sesama rekan pengojek yang lain.

Ryan yang sudah lebih 10 tahun menunggang motor kesayanganya mengaku setiap hari bisa meraup cuan Rp800ribu dan dikala musim ramai bisa melebihi Rp1juta per hari.

Dalam sekali jalan ke area tambang dirinya mematok tarif Rp50 ribu per karung batu. Wajar memang jika dirinya bisa meraup omset hingga lebih dari  Rp1juta karena, motornya dirancang untuk bisa membawa 4 sampai 5 karung sekali jalan.

Nurdin mengatakan, keberadaan tambang gunung Lamunga adalah salah satu lokasi mata pencarian hidup hari-hari. Tak hanya bagi orang luar daerah, terlebih bagi warga bumi Bariri Lema Bariri. Warga menjemput peluang usaha dikawasan tambang seperti jualan makanan dan ojek.

Kondisi yang sama dirasakan sesama tukang ojek  lainya bernama Muhammad yang merasa  bersyukur bisa meraih pendapatan Rp500ribu sampai Rp800 ribu rupiah setiap hari. Untuk satu karung batu terkadang dia mematok tarif Rp40 ribu sampai Rp50 ribu tergantung jarak tempuh.

Meskipun masyarakat telah dilarang untuk melakukan aktifitas ilegal di gunung Lamunga namun tidak sedikit orang yang masih bertahan untuk mengais rezeki di area pertambangan tersebut. (Admin04-KS)