SUMBAWA BARAT, KanalSumbawa.– Bagaimana jika masjid tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk beribadah, tetapi juga menjadi ruang yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat? Gagasan itu tengah diuji Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumbawa Barat melalui pengembangan ekosistem ekonomi di kawasan Masjid Agung Darussalam.

Kurma menjadi pintu masuk dari gagasan tersebut. Namun, BRIDA menegaskan tanaman kurma bukan tujuan utama. Tanaman itu akan dikombinasikan dengan pengembangan kolam ikan, rencana kafe syariah, toko buku Islami hingga produk olahan yang dapat dipasarkan di kawasan masjid.

“Tujuan utamanya bukan kurma. Jadi kita ingin membuat sebuah ekosistem ekonomi,” ujar Kepala BRIDA Kabupaten Sumbawa Barat, Mars Anugerainsyah, S.Hut., M.Si., CGCAE. Saat di temui 19 agustus 2026

Konsep tersebut berangkat dari pemikiran bahwa masjid memiliki ruang dan aktivitas yang dapat dikembangkan lebih jauh. Jika dikelola secara profesional, kawasan masjid tidak hanya ramai pada waktu salat, tetapi juga dapat menjadi tempat masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi.

BRIDA membayangkan teras Masjid Agung Darussalam nantinya dapat menjadi ruang bagi aktivitas usaha berbasis syariah. Produk olahan kurma, hasil pengembangan ikan hingga produk masyarakat dapat dipasarkan di sana. Pengunjung dari luar daerah pun diharapkan memiliki alasan lain untuk datang dan beraktivitas di kawasan masjid.

“Jadi ada kita ekosistem ekonomi yang kita coba kembangkan di masjid,” katanya.

Gagasan tersebut sekaligus mencoba menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat berbagai aktivitas masyarakat. Bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan, pergaulan dan ekonomi sebagaimana fungsi masjid pada masa lalu.

Untuk menguji konsep tersebut, BRIDA menyiapkan 35 bibit kurma di Masjid Agung Darussalam, terdiri dari 30 bibit betina dan lima bibit jantan. Bibit yang digunakan merupakan kultur jaringan dari pusat kurma di Bogor, dengan jenis Ghanami dan Barhee.

Uji coba itu nantinya didampingi tiga orang dari tim Ukhuwah Datu yang sebelumnya menangani pengembangan kurma di Kabupaten Lombok Utara. Pendampingan mencakup pemilihan bibit, persiapan lahan, penanaman hingga pemeliharaan. BRIDA juga telah berkoordinasi dengan Dinas Perikanan untuk pengembangan kolam serta Bappeda terkait penataan program.

Pelaksanaan direncanakan mulai setelah APBD Perubahan tersedia. Pemerintah menyiapkan sekitar Rp200 juta untuk kebutuhan bibit, penanaman dan tenaga ahli pendamping. Namun, angka tersebut masih berupa gambaran awal dan belum menjadi rincian keseluruhan anggaran program.

Menariknya, uji coba ini juga diarahkan untuk menjawab persoalan yang sudah muncul di masyarakat. Setelah rencana penanaman kurma dicetuskan, BRIDA mengaku mendapat informasi dari sejumlah warga yang sebelumnya telah menanam kurma tetapi belum berhasil berbuah. Kondisi itu akan ikut dipelajari agar pengembangan kurma di Sumbawa Barat tidak hanya berhenti pada penanaman.

“Klaster ekonomi baru. Ya kami coba kita lihat ruang-ruang sekecil apa pun yang kira-kira masyarakat bisa menghasilkan benefit dalam bentuk uang itu yang kita akan coba maksimalkan,” jelasnya.

Bagi BRIDA, Masjid Agung Darussalam menjadi ruang uji untuk melihat apakah gagasan tersebut bisa berjalan secara nyata. Jika berhasil, yang ingin dibangun bukan sekadar kebun kurma, melainkan pola ekonomi yang membuat aktivitas masjid dan masyarakat saling menghidupkan—masjid dimakmurkan oleh masyarakat, sekaligus mampu memberi manfaat kembali kepada masyarakat.(Nin-ks)