Kanalsumbawa, Sumbawa Barat | Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menargetkan pembangunan fasilitas wisata kerakyatan di kawasan Brang Ene dan Brang Rea dapat rampung dan mulai dimanfaatkan masyarakat pada tahun ini. Bahkan, peresmian kedua kawasan wisata tersebut diupayakan bertepatan dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) Kabupaten Sumbawa Barat.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) KSB, Rahadian, S.Pd.,M.Si, mengatakan pembangunan ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam menyiapkan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat menuju era pasca tambang.
Menurut Rahadian, konsep utama yang dikembangkan adalah pariwisata kerakyatan, yakni model pengelolaan wisata yang menempatkan masyarakat desa sebagai pelaku utama melalui Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma).
“Pemerintah daerah menyiapkan sarana dan prasarana, fasilitasi, pengawasan, serta pendampingan manajemen. Namun, seluruh aktivitas usaha dan pengembangan bisnis nantinya akan dikelola langsung oleh desa-desa melalui BUMDesma,” ujar Rahadian saat diwawancarai media, Senin (18/5/2026).
Untuk kawasan Brang Ene, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp11 miliar. Sejumlah fasilitas utama yang tengah dibangun meliputi jogging track, loket masuk, serta lima titik check point yang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Selain itu, akan dibangun rest area di Desa Mujahiddin sebagai tempat persinggahan pengunjung.
Kawasan Brang Ene juga akan dilengkapi community area yang menyediakan restoran dan fasilitas homestay guna menunjang kenyamanan wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Selain itu, tersedia pula fasilitas pendukung seperti musala, kantin, tempat hiburan, serta stan UMKM sebagai ruang bagi warga untuk memasarkan produk ekonomi kreatif mereka.
Sementara itu, di kawasan Brang Rea, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar untuk pembangunan jogging track sepanjang 1,1 kilometer yang terhubung menuju kawasan Gua Mamber, yang berjarak sekitar satu kilometer dari pintu masuk utama. Di kawasan ini juga akan dibangun community area di Rarak Ronges yang dilengkapi kantin dan homestay.
Rahadian menegaskan, seluruh pengembangan usaha nantinya akan dikelola oleh BUMDesma. Bahkan, setiap check point akan diserahkan kepada BUMDes masing-masing desa untuk dikelola secara mandiri sesuai wilayahnya.
“Pemerintah hanya menyiapkan fasilitas dan melakukan pendampingan. Seluruh kegiatan usaha, pengelolaan pendapatan, hingga pengembangan bisnis akan dilakukan oleh BUMDesma, termasuk penyertaan modal yang berasal dari desa-desa,” tegasnya.
Lebih dari sekadar pembangunan destinasi wisata, kawasan Brang Ene dan Brang Rea juga diproyeksikan menjadi pusat aktivasi budaya lokal dan ekonomi kreatif. Berbagai kegiatan seni tradisional, ruang usaha UMKM, hingga aktivitas masyarakat akan dihidupkan di sepanjang jalur jogging track sebagai bagian dari upaya menghadirkan wisata yang berbasis masyarakat dan berkelanjutan.(Admin01-KS)







