Karya : Iwan F

Sembalun, Kanalsumbawa | Pagi baru saja menyentuh lereng Rinjani ketika aroma bawang putih yang telah melalui fermentasi panjang menguar dari sebuah rumah sederhana di Sembalun. Di sana, Saehun dengan telaten membalik satu per satu siung bawang yang kini berubah warna menjadi hitam legam. Tak lagi sekadar hasil panen biasa, bawang itu telah bertransformasi menjadi black garlic, produk bernilai tinggi yang perlahan membawa nama kampungnya melintasi batas negara.

Di tangan perempuan itu, komoditas yang dahulu kerap terjebak dalam fluktuasi harga saat musim panen kini menemukan kehidupan baru. Setiap kemasan yang dikirim keluar daerah bahkan hingga mancanegara bukan hanya membawa produk olahan, tetapi juga cerita tentang kreativitas masyarakat pegunungan yang mampu membaca peluang di tengah perubahan zaman.

Beberapa kilometer dari sana, suara alat tenun tradisional berpadu dengan semilir angin pegunungan. Dwi Ariska sibuk merapikan lembar demi lembar kain tenun khas Sembalun yang sarat makna budaya. Namun, yang ditawarkan bukan hanya sehelai kain. Ia menghadirkan pengalaman yang membuat wisatawan ikut menyentuh tradisi, merasakan proses menenun, dan memahami nilai yang tersimpan di balik setiap motif yang lahir dari tangan para perempuan desa.

Di kawasan yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada pertanian dan perikanan, pariwisata perlahan membuka cakrawala baru. Bentang alam yang memukau memang menjadi daya tarik utama, tetapi kekuatan sesungguhnya terletak pada manusia yang menghidupkan ruang-ruang wisata itu dengan cerita, budaya, dan produk lokal yang autentik.
Perubahan tersebut tidak datang begitu saja. Dibutuhkan keberanian untuk beralih dari pola usaha konvensional menuju ekosistem ekonomi yang lebih dinamis. Kesadaran itulah yang melahirkan berbagai upaya peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu memanfaatkan peluang yang tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.

Melalui program GUMI SERI atau Gerakan UMKM Mandiri untuk Inisiatif Pariwisata Hijau yang diinisiasi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Forward Indonesia sejak awal 2025, para pelaku usaha memperoleh pendampingan yang menyentuh kebutuhan nyata mereka. Mulai dari pengelolaan keuangan, penyusunan strategi usaha, hingga pemetaan model bisnis dilakukan secara bertahap agar usaha lokal dapat berkembang secara berkelanjutan.

Hasilnya mulai terlihat di berbagai sudut Sembalun dan Jerowaru. Desi Wida Hadiana, misalnya, mengembangkan kedai kopi yang tidak hanya menyuguhkan secangkir minuman hangat dengan latar sawah yang hijau, tetapi juga mengolah limbah ampas kopi menjadi sabun organik. Sebuah langkah kecil yang menunjukkan bahwa inovasi dapat tumbuh dari hal-hal yang selama ini dianggap tak bernilai.

Di sektor akomodasi, Sri Azizah memanfaatkan homestay yang dikelolanya sebagai pintu masuk bagi produk-produk lokal. Wisatawan yang menginap tidak lagi pulang dengan tangan kosong. Berbagai makanan khas daerah kini hadir sebagai buah tangan yang memperpanjang manfaat ekonomi pariwisata bagi masyarakat sekitar.

Yang menarik, geliat usaha itu tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Pelaku UMKM di pegunungan Sembalun dan pesisir Jerowaru mulai membangun jejaring yang saling menguatkan. Wisatawan yang menikmati keindahan Rinjani dapat diarahkan menjelajahi pesona pantai di Jerowaru, sementara produk-produk lokal dari kedua wilayah saling melengkapi dalam satu rantai ekonomi yang semakin kokoh.

Ketika senja perlahan menyelimuti punggung Rinjani, kisah-kisah seperti milik Saehun dan Dwi menjadi penanda bahwa masa depan Lombok Timur tidak hanya bertumpu pada kekayaan alamnya. Di balik aroma black garlic, di sela denting alat tenun tradisional, dan di tangan para pelaku UMKM yang terus berinovasi, sedang tumbuh harapan baru. Harapan yang ditenun dari kearifan lokal, dirawat dengan pengetahuan modern, lalu dipersembahkan kepada dunia sebagai wajah baru ekonomi masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.(**)