Oleh : Iwan Fardiansyah
Panggung Lestari Awards 2026 malam itu penuh sorot lampu. Nama PT Amman Mineral Nusa Tenggara disebut sebagai pemenang kategori Waste Management. Bukan untuk tambangnya, melainkan untuk apa yang terjadi di halaman sekolah-sekolah di Kabupaten Sumbawa Barat.
Tepuk tangan bergemuruh, foto bersama diambil, trofi berpindah tangan. Tapi cerita sesungguhnya tidak dimulai di panggung itu.
Ceritanya dimulai dari angka yang tidak enak dilihat. Timbulan sampah di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) naik sekitar 17 persen per tahun, dengan rata-rata 30.000–40.000 ton per tahun. Sebagian besar masih berujung di tempat pembuangan akhir tanpa pemilahan, sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mulai menyoroti praktik open dumping di berbagai daerah. Kapasitas TPA menyusut, gas metana dari tumpukan sampah organik terus terbentuk, dan risiko pencemaran lingkungan sekitar TPA meningkat.
Dari situasi itulah, sejak 2022, AMMAN memulai Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS). Programnya sejalan dengan Instruksi Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 660 Tahun 2022, yang mendorong sekolah mengelola sampahnya sendiri. Konsepnya sederhana di atas kertas: siswa memilah sampah dari rumah, membawa sisa organiknya ke sekolah, lalu sekolah mengolahnya jadi kompos lewat Rumah Kompos (RUMPOS) yang dibangun dengan dukungan AMMAN.
Yang tidak sederhana adalah menjalankannya setiap hari, selama bertahun-tahun.
Salah satu guru pendamping program mengenang bagaimana reaksi murid-muridnya di awal. Menurutnya, anak-anak sempat jijik karena sampah dapur lengket dan berbau, sebelum akhirnya terbiasa memilah dan mengolahnya sendiri. Bahkan di rumah, tidak semua orang tua mendukung. Ada yang sempat menolak anaknya ikut memilah sampah karena khawatir dicap “tukang sampah”. Butuh waktu sebelum kebiasaan itu diterima sebagai hal yang wajar, bukan sesuatu yang memalukan.

Dari Dua Sekolah ke Ekosistem Kecil
Fase pertama program, pada 2022–2023, dijalankan di dua sekolah percontohan dengan anggaran sekitar Rp153 juta, melibatkan 78 guru dan 563 siswa untuk menguji model dan menyusun standar operasional yang melibatkan siswa dan guru sebagai penyusun utamanya — bukan sekadar objek program.
Fase kedua, 2024–2025, memperluas cakupan ke empat sekolah tambahan, di antaranya SMPN 3 Taliwang, SMP IT Imam Syafi’i Taliwang, SDN 2 Taliwang, dan SDN Bukit Damai Maluk, dengan anggaran sekitar Rp603 juta. Total penerima manfaat langsung pada fase ini naik jadi 272 guru dan 2.219 siswa dari enam sekolah yang aktif.
Angkanya tidak berhenti di lingkup sekolah. Program ini juga menjangkau 1.332 warga sekitar atau sekitar 444 kepala keluarga secara tidak langsung, sebagai bagian dari rumah tangga yang ikut memilah sampah sebelum dibawa ke sekolah. Ditambah 42 karyawan AMMAN yang terlibat aktif sebagai relawan pengajar dan fasilitator lapangan lewat program partisipasi karyawan internal perusahaan.
Priyo Pramono, Vice President Policy & Permitting dan Social Impact AMMAN, menyebut sekolah sengaja dipilih sebagai titik awal perubahan karena pengaruhnya menjalar ke banyak arah sekaligus — ke siswa, guru, keluarga, hingga masyarakat sekitar.
“Dengan program ini, AMMAN turut membangun ekosistem yang mengembangkan generasi muda masa depan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keberhasilan PPSS tidak hanya terlihat dari jumlah sampah yang dikelola, tetapi dari tumbuhnya kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar,” kata Priyo.
Angka yang Bicara Lebih dari Sekadar Kompos
Selama 2022–2025, volume sampah organik yang diolah tumbuh dari 25,07 ton pada tahun pertama menjadi puncaknya 54,19 ton pada 2024, dengan total akumulatif 136,54 ton sampah organik berhasil dialihkan dari TPA dan diubah jadi kompos POSTA (Pupuk Organik Sekolah Kita). Dari sisi emisi, program ini diperkirakan menekan lebih dari 4,95 ton CO2 ekuivalen secara kumulatif — angka yang kecil di skala nasional, tapi berarti bagi desa-desa di sekitar Taliwang dan Maluk yang truk sampahnya jadi lebih jarang bolak-balik ke TPA.

Dari sisi ekonomi, program ini diperkirakan menghemat biaya pengangkutan sampah hingga Rp79 juta, sekaligus membuka potensi pendapatan sekolah sebesar Rp53,29 juta dari penjualan kompos. Konsultan independen yang dilibatkan pada 2024 menghitung Social Return on Investment (SROI) program ini sebesar 4,09 — artinya, setiap Rp1 yang diinvestasikan diperkirakan menghasilkan sekitar Rp4,09 nilai sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Kick-off program berskala lebih besar digelar 9 Maret 2024 di SMPN 3 Taliwang, melibatkan 31 sekolah se-KSB sebagai peserta peningkatan kesadaran soal 3R, lengkap dengan pre-test dan post-test pemahaman serta sesi dari narasumber Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KSB dan tim ahli PPSS. Sebanyak 13 sekolah lain di luar sekolah mitra juga tercatat pernah berkunjung ke rumah kompos SMPN 3 Taliwang untuk belajar langsung tata kelolanya.
Komitmen ini diperkuat lewat kesepakatan bersama antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat dan AMMAN yang ditandatangani 20 Februari 2024 di Lapangan Upacara KTC, oleh Bupati Sumbawa Barat dan Priyo Pramono mewakili AMMAN. Kesepakatan ini jadi payung kerja sama untuk perencanaan, pemantauan, hingga evaluasi program, termasuk pengembangan pengolahan sampah organik lewat budidaya maggot berbasis masyarakat di desa lingkar tambang.
Plakat yang Diuji Setiap Hari
Kepala Diskominfo KSB, Dedy Damhudy M. Khatim, menyebut sektor pendidikan punya jumlah siswa yang besar, sehingga jadi tempat yang efektif untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
“Lewat pupuk kompos ini, kita diajak belajar bahwa tidak ada sampah yang sia-sia jika dikelola dengan benar,” katanya.
Klaim itu punya bukti yang lebih konkret ketimbang sekadar seremoni. Beberapa sekolah dampingan PPSS meraih penghargaan Adiwiyata Provinsi 2024 dari Pemerintah Provinsi NTB — bukan karena tamannya terlihat rapi saat dinilai, tapi karena punya sistem pemilahan dan pengomposan yang benar-benar berjalan setiap hari, bukan hanya saat tim penilai datang.
Meski begitu, penghargaan semacam itu juga jadi ujian balik bagi keberlanjutan program. Di salah satu sekolah mitra, RUMPOS sempat berhenti beroperasi selama dua bulan menjelang akhir 2024, gara-gara guru pendampingnya pindah tugas dan mesin pencacah rusak.
“Kuncinya bukan bangunannya, tapi orangnya. Kalau tidak ada guru yang merasa memiliki, ya berhenti,” ujar guru pendamping tadi, menceritakan pengalaman rekannya di sekolah lain.
Bukan Bantuan, Tapi Titipan Kepercayaan
AMMAN menekankan bahwa program ini bukan bantuan yang selesai begitu barang diserahkan. Pendekatan yang dipakai lebih ke arah membangun ekosistem yang menumbuhkan generasi muda, dengan cita-cita jangka panjang: PPSS bertransisi dari program CSR perusahaan menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan sampah daerah, termasuk lewat kolaborasi penyusunan master plan TPST bersama Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat.
Rencananya, pada 2026 AMMAN mengalokasikan tambahan anggaran sekitar Rp155 juta untuk tiga sekolah baru, sehingga total sekolah pelaksana PPSS menjadi sembilan. Pupuk POSTA yang dihasilkan juga mulai dijajaki untuk pertanian organik dan kegiatan perhutanan sosial di desa-desa sekitar area tambang.

Di sekolah-sekolah yang sudah berjalan, tanda-tanda kemandirian mulai terlihat. Ada yang menjual kompos untuk mengisi kas OSIS. Ada juga yang memakainya untuk kebun sekolah, hasilnya dipakai untuk kegiatan makan bersama.
Maka ketika nama PT Amman Mineral Nusa Tenggara disebut di atas panggung Lestari Awards 2026, penghargaan itu sebetulnya bukan titik akhir. Ratusan guru, ribuan siswa, ribuan warga sekitar sekolah, dan puluhan relawan karyawan AMMAN sudah lebih dulu menjalani prosesnya — mengaduk kompos yang bau setiap pagi, jauh sebelum ada yang berpikir soal trofi.
Trofi itu mungkin akan berdiri di lemari pajangan kantor AMMAN. Tapi pertanyaan yang lebih relevan bukan soal trofi, melainkan apakah adik-adik kelas mereka tahun depan masih mau melakukan hal yang sama, tanpa perlu ada yang menyuruh.







