Oleh: Anindya CY
Sumbawa Barat, Kanalsumbawa — Sehelai kain mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dilihat. Namun, bagi pembuatnya, kain itu menyimpan waktu berhari-hari.
Di Lingkungan Batu Ble, Kabupaten Sumbawa Barat, Nurhasanah akrab dengan proses panjang itu. Di hadapannya, benang demi benang ditata. Tangan bergerak teliti mengikuti pola, sementara waktu berjalan perlahan. Untuk menyelesaikan satu helai kain tenun, ia membutuhkan waktu sekitar satu minggu.
Tidak ada jalan pintas dalam pekerjaan itu.
Setiap bagian harus dikerjakan dengan sabar. Sedikit saja keliru, hasil akhirnya bisa berubah. Karena itu, bagi Nurhasanah, menenun bukan sekadar menghasilkan kain untuk dijual, tetapi juga menjaga keterampilan yang diwariskan dan identitas budaya yang melekat di dalam setiap motif.
Kesibukan Nurhasanah meningkat menjelang Hari Lahir Kabupaten Sumbawa Barat (Harlah KSB). Pesanan berdatangan untuk berbagai kebutuhan, termasuk kain yang akan digunakan dalam rangkaian kegiatan dan peragaan busana.
Namun, cerita tentang kain dari Batu Ble ternyata tidak berhenti di wilayah Sumbawa Barat. Pesanan mulai datang dari luar daerah. Salah satunya dari Kota Mataram.
Bagi Nurhasanah, meningkatnya permintaan menjadi tanda bahwa tenun lokal masih memiliki tempat di tengah perubahan selera masyarakat. Tenun tidak lagi hanya dipandang sebagai kain untuk acara adat atau kegiatan resmi, tetapi mulai masuk ke ruang yang lebih luas.
Ia pun mencoba menjembatani dua dunia: tradisi dan selera masa kini.
Konsumen dapat memilih kombinasi warna sesuai keinginan. Warna-warna yang lebih modern dipadukan dengan motif tradisional tanpa menghilangkan karakter dasar tenun.
“Masyarakat bisa memadukan motif tradisi dengan tren warna modern tanpa merusak nilai estetika serta keaslian makna budaya,” kata Nurhasanah kepada KanalSumbawa, Senin (10/8/2026).
Bagi perempuan yang sehari-hari bergelut dengan benang dan motif itu, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru, ia melihat perubahan sebagai salah satu cara agar tenun tetap dikenakan dan dikenal oleh generasi yang lebih muda.
Sebab, kain yang hanya disimpan sebagai benda budaya akan kehilangan salah satu kekuatannya: dipakai dan dikenalkan kembali.
Proses panjang itu pula yang membuat harga sebuah karya tidak bisa semata-mata dihitung dari ukuran kain. Satu set kain tenun produksi Nurhasanah berada di kisaran Rp1 juta.
Di balik angka tersebut ada waktu sekitar sepekan, keterampilan tangan, ketelitian, serta proses panjang yang tidak bisa dikerjakan terburu-buru.
“Setiap tahapan menentukan kualitas akhir kain tenun sehingga pengerjaannya bisa memakan waktu hingga satu minggu,” ujarnya.
Nurhasanah juga menyadari bahwa menjaga tenun bukan hanya soal memproduksi dan menjualnya. Ketika sebuah motif mulai dikenal, ada identitas yang harus dijaga.
Empat motif tenun hasil karyanya telah dicatatkan melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), yakni Ani Bagarus Lima, Kemang Tonyong, Pusuk Kele, dan Bintang Balu.
Dari Batu Ble, kain-kain itu perlahan menemukan perjalanan masing-masing. Ada yang dipersiapkan untuk memeriahkan Harlah KSB, ada pula yang dikirim kepada pembeli di luar daerah.
Perjalanan itu menjadi gambaran kecil tentang bagaimana tradisi bisa bertahan: bukan dengan menolak perubahan, tetapi dengan beradaptasi tanpa kehilangan akar.
Di tangan Nurhasanah, sehelai kain bukan sekadar hasil tenun. Ia adalah pertemuan antara waktu, keterampilan, kreativitas dan identitas.
Satu minggu mungkin terdengar lama untuk menghasilkan sehelai kain. Namun, bagi sebuah tradisi, waktu selama itu adalah bagian dari harga yang harus dibayar agar warisan tidak berhenti pada cerita.
Dari benang-benang yang dirangkai di Batu Ble, tenun Sumbawa Barat terus mencari jalan untuk tetap hidup—dikenakan, dipasarkan, dan dikenalkan kepada lebih banyak orang.
Sebab selama masih ada tangan yang mau menenun dan ada orang yang mau mengenakannya, tradisi itu belum selesai bercerita.






