Taliwang, Kanalsumbawa – Persoalan sampah liar yang, masih bermunculan di sejumlah titik di Kecamatan Taliwang kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat. Meski kegiatan gotong royong rutin dilakukan, tumpukan sampah masih terlihat di kawasan Jembatan Pelangi, Kelurahan Dalam, hingga sekitar Jembatan Sampir.
Untuk memperkuat penanganan sampah rumah tangga, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumbawa Barat menyiapkan 38 unit kendaraan angkut roda tiga atau tosa yang akan didistribusikan ke seluruh kelurahan di Kecamatan Taliwang sebagai solusi pelayanan jangka panjang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, Aku Nur Rahmadin, S.Pd., M.M.Inov., mengatakan setiap lingkungan nantinya akan mendapatkan satu unit kendaraan pengangkut sampah yang dioperasikan secara khusus untuk melayani masyarakat.
“Sebanyak 38 unit tosa diperkirakan sudah tersedia seluruhnya pada akhir Juli. Kami juga akan menerbitkan surat keputusan bagi operator pengangkut sampah, sementara insentifnya telah diatur melalui kelurahan,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, keberadaan armada tersebut bukan hanya untuk memperlancar pengangkutan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. DLH bersama pemerintah kelurahan akan melakukan pendampingan agar warga mampu mengelola sampah secara mandiri dan hanya membuang residu yang tidak dapat dimanfaatkan.
DLH juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa dan kelurahan melalui pendampingan bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Langkah itu dilakukan untuk memastikan penanganan sampah rumah tangga dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Kami akan menggelar rapat koordinasi dengan seluruh kelurahan di Kecamatan Taliwang. Harapannya, masyarakat ke depan bisa mengelola sampah secara mandiri sehingga volume sampah yang harus diangkut semakin berkurang,” kata Rahmadin.
Ia mengakui keterbatasan armada masih menjadi salah satu kendala dalam pelayanan persampahan saat ini. Namun, pemerintah daerah berkomitmen memenuhi kebutuhan sarana pengangkutan secara bertahap agar pelayanan kebersihan semakin optimal.
Di sisi lain, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat masih menjadi tantangan terbesar. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dinilai menjadi penyebab utama munculnya titik-titik pembuangan liar yang terus berulang.
Karena itu, selain menambah fasilitas pengangkutan, pemerintah berharap perubahan perilaku masyarakat dapat berjalan seiring. Tanpa keterlibatan warga, berbagai bantuan yang diberikan dikhawatirkan hanya akan meringankan biaya pengangkutan, tetapi belum mampu menghentikan persoalan sampah liar yang selama ini mengganggu wajah ibu kota kabupaten tersebut.(**)







