Sumbawa Barat, Kanalsumbawa – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) melakukan penyempurnaan mekanisme penilaian pada Anugerah Inovasi Daerah (AID) 2026.
Langkah ini ditempuh untuk memastikan inovasi yang dinobatkan sebagai terbaik benar-benar telah diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya unggul di atas kertas. Perubahan skema penilaian tersebut disampaikan dalam Technical Meeting (TM) yang diikuti seluruh peserta AID.
Ketua Pelaksana Anugerah Inovasi Daerah (AID) 2026, Mustamar, menjelaskan bahwa verifikasi faktual di lapangan kini menjadi aspek paling menentukan dalam penilaian.

Jika pada penyelenggaraan sebelumnya penilaian lebih banyak bertumpu pada kualitas dokumen dan kemampuan peserta mempresentasikan gagasan, tahun ini BRIDA menerapkan komposisi baru yang lebih proporsional. Presentasi diberikan bobot 25 persen, wawancara 25 persen, sedangkan verifikasi lapangan mendapat porsi terbesar, yakni 50 persen.
Menurut Mustamar, perubahan tersebut dilakukan agar inovasi yang diikutsertakan tidak berhenti pada tataran konsep dan administrasi, tetapi benar-benar telah dijalankan, diuji, serta menunjukkan dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat maupun lingkungan sekitarnya.
“Tim penilai akan turun langsung untuk melihat implementasi inovasi, baik di OPD, masyarakat maupun sekolah. Kami ingin memastikan inovasi yang diikutsertakan memang berjalan dan memiliki keberlanjutan,” ujarnya. Jumat (19/06/2026)
Penerapan skema baru itu berdampak pada bertambahnya waktu yang dibutuhkan untuk proses rekapitulasi nilai hingga penetapan pemenang. Namun, menurut BRIDA, tahapan tambahan tersebut merupakan investasi penting untuk menghasilkan proses seleksi yang lebih objektif, akuntabel, dan kredibel.
Berdasarkan data akhir pasca-Technical Meeting, AID 2026 diikuti 42 inovator yang terbagi dalam tiga kategori. Sebanyak 16 peserta berasal dari perangkat daerah, 15 peserta dari kategori masyarakat, dan 11 peserta dari kategori sekolah.
Ajang tahun ini juga kembali diramaikan oleh sejumlah juara kategori masyarakat pada edisi sebelumnya. Meski demikian, mereka tampil dengan inovasi baru dan mengajukan judul yang berbeda dari karya yang pernah meraih penghargaan.
Dalam sesi diskusi, beberapa peserta mengusulkan peningkatan nominal uang pembinaan serta penambahan jumlah penerima penghargaan. Menanggapi aspirasi tersebut, Mustamar menjelaskan bahwa mekanisme penghargaan tahun ini masih mempertahankan format Juara I, II, dan III pada masing-masing kategori. Namun, seluruh masukan akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan AID pada tahun anggaran berikutnya.
Sementara itu, Sekretaris BRIDA
Kabupaten Sumbawa Barat, Taufik Hikmawan, mendorong seluruh elemen daerah untuk terus melahirkan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan. Ia juga memberi sinyal positif terkait kemungkinan peningkatan bentuk apresiasi bagi para inovator pada masa mendatang sebagai penghargaan atas kontribusi mereka dalam mendukung kemajuan daerah.(Nin-ks)







