Oleh: Mae Sarah

Kanalsumbawa — Sebuah novel karya penulis asal Sumbawa Barat menjadi titik temu bagi anak-anak muda yang ingin berbagi gagasan tentang literasi. Jumat (16/10/2026), Warkop Sudut Temu menjadi ruang perjumpaan pelajar, mahasiswa, dan pegiat komunitas dalam talkshow dan peluncuran novel Don’t Say Goodbye karya Heri Satria. Kegiatan yang digelar Komunitas Anok Bongan bersama Sumbawa Produktif itu bukan sekadar memperkenalkan buku, melainkan membuka percakapan tentang pengalaman, kepenulisan, dan ruang tumbuh bagi literasi di daerah sendiri.

Di antara obrolan yang berlangsung di warung kopi, ada sebuah gagasan yang ingin dibawa pulang: menulis bukan sesuatu yang harus dimulai oleh orang-orang besar dengan pengalaman luar biasa. Pengalaman sehari-hari pun dapat menjadi cerita, selama ada keberanian untuk mengolahnya menjadi tulisan. Dari pertemuan sederhana itu, peserta diajak melihat buku bukan hanya sebagai bahan bacaan, tetapi juga sebagai pintu untuk memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Bagi Komunitas Anok Bongan, pertemuan semacam ini berangkat dari kegelisahan terhadap terbatasnya ruang bertukar pikiran bagi generasi muda Sumbawa Barat. Inisiator Anok Bongan, Alfahrozy, melihat mahasiswa yang kembali ke daerah setelah menempuh pendidikan membutuhkan wadah untuk membagikan pengetahuan sekaligus mengembangkan gagasan bersama anak muda lainnya. Pengetahuan yang diperoleh di luar daerah, menurutnya, perlu menemukan ruang untuk tumbuh dan memberi arti di tanah sendiri.

“Adanya wadah seperti ini merupakan keresahan yang dialami oleh setiap mahasiswa yang kembali pulang ke Kabupaten Sumbawa Barat. Melihat literasi di Kabupaten Sumbawa Barat dan gerakan komunitas yang masih sangat minim, maka Anok Bongan hadir untuk memberikan wadah tukar jiwa dan tukar pikir untuk generasi Sumbawa Barat,” ungkap Alfahrozy.

Gagasan tersebut menemukan ruangnya melalui kolaborasi dengan Sumbawa Produktif. Dua komunitas ini mempertemukan semangat pengembangan literasi dengan upaya mendorong anak muda agar lebih berani menyampaikan gagasan dan mengembangkan potensi. Kolaborasi itu juga memperlihatkan bahwa gerakan komunitas dapat dimulai dari langkah sederhana: mengumpulkan orang, menghadirkan gagasan, lalu memberi kesempatan bagi setiap orang untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Di tengah percakapan itu, sosok Heri Satria menjadi perhatian. Penulis asal Sumbawa Barat tersebut hadir membawa Don’t Say Goodbye, sebuah karya yang menjadi penghubung antara pengalaman menulis dan keinginan untuk menumbuhkan minat literasi. Kehadiran penulis lokal memberi kesempatan kepada peserta untuk melihat lebih dekat bahwa karya sastra tidak selalu lahir jauh dari lingkungan mereka. Dari daerah sendiri, seseorang dapat merangkai pengalaman menjadi buku dan mempertemukannya dengan pembaca.

“Menulis pengalaman sendiri maupun orang lain merupakan cara untuk meluapkan pengalaman yang di kemudian hari kita sadar bahwa dalam menghadapi kesulitan, kita tidak pernah berdiri sendiri,” tutur Heri.

Pernyataan itu menjadi salah satu inti percakapan dalam peluncuran novel tersebut. Pengalaman hidup, termasuk kesulitan yang pernah dialami seseorang, dapat menemukan makna baru ketika dituliskan dan dibagikan. Cerita memungkinkan pembaca mengenali pergulatan orang lain, sekaligus menyadari bahwa persoalan yang dihadapi tidak selalu harus ditanggung dalam kesendirian. Di situlah menulis menemukan salah satu kekuatannya: mengubah pengalaman personal menjadi ruang perjumpaan.

Bagi pelajar dan mahasiswa yang hadir, pertemuan dengan Heri Satria juga membuka gambaran tentang proses di balik lahirnya sebuah buku. Menulis membutuhkan kepekaan untuk mengamati, kesediaan mengolah pikiran, dan keberanian memulai. Peluncuran Don’t Say Goodbye pun menjadi kesempatan untuk mendekatkan karya penulis daerah dengan pembaca di lingkungannya sendiri. Sebuah karya lokal tidak hanya hadir sebagai buku yang diperkenalkan, tetapi juga sebagai pemantik agar anak muda percaya bahwa gagasan mereka layak dituliskan.

Diskusi yang dipandu Fidlia Mae Sarah mempertegas pentingnya kesinambungan setelah sebuah kegiatan berakhir. “Pengalaman hari ini akan menjadi pengetahuan di kemudian hari, dan pengetahuan akan menjadi sebuah gerakan yang harapannya akan berkelanjutan untuk Sumbawa Barat,” katanya. Sementara itu, Ketua Panitia Malikul Quddus dari Sumbawa Produktif mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong pola pikir generasi muda sekaligus membuka peluang bagi penguatan ekonomi kerakyatan.

Pada akhirnya, pertemuan di Warkop Sudut Temu mempertemukan tiga hal yang saling menguatkan: karya seorang penulis asal Sumbawa Barat, inisiatif komunitas, dan keinginan generasi muda untuk memiliki ruang belajar bersama. Melalui Don’t Say Goodbye, Heri Satria berbagi pengalaman melalui tulisan, sementara Anok Bongan dan Sumbawa Produktif membuka ruang agar percakapan itu menjangkau lebih banyak anak muda. Gerakan literasi memang tidak selalu dimulai dari gedung besar atau agenda berskala luas. Terkadang, ia tumbuh dari sebuah buku, percakapan di warung kopi, dan keberanian untuk memulai.