Feature by Iwan F
Brang Ene, Kanalsumbawa _ Bagi seorang kepala desa, perjalanan dinas sering kali terjebak menjadi rutinitas tanpa bekas. Namun, tidak bagi Jayadi. Kepala Desa Menemeng Kecamatan Brang Ene ini tampaknya pulang dari agenda Touring Camp PWI di Sembalun dengan isi kepala yang riuh.
Di hamparan dataran tinggi Rinjani yang kini menjelma menjadi magnet ekonomi itu, Jayadi tidak sedang pelesiran, ia sedang membaca ulang formula sosiologis yang membuat Sembalun berhasil. Satu kesimpulan penting yang ia kantongi adalah bahwa Sembalun berhasil bukan karena modal raksasa dari luar, melainkan karena mereka berhasil mendudukkan rakyat sebagai subjek, bukan sekadar objek tontonan.
Di Sembalun, Jayadi menyaksikan bagaimana ekosistem ekonomi mikro bekerja secara organik melalui jaringan produksi warga yang saling mengikat. Petani menyediakan komoditas, pemilik rumah menyulap kamar kosong menjadi homestay, dan para ibu bergerak di sektor kuliner serta UMKM.
Jayadi menganalisis bahwa konsep ini mematahkan mitos lama tentang pariwisata yang melulu soal mendirikan hotel megah milik investor besar. Baginya, esensi utama dari wisata kerakyatan adalah memberikan ruang dan kepercayaan penuh kepada warga lokal, sehingga manfaat ekonominya mengalir langsung ke dapur-dapur mereka sendiri.
Gagasan tersebut kini membentur realitas di tanah Brang Ene, Ia langsung memetakan potensi empat desa yang menjadi segiempat emas barunya, yaitu Desa Menemeng, Desa Kalimantong, Desa Mura dan Desa Mujahidin.

Secara objektif, keempat desa ini memiliki modal sosial dan modal alam yang melimpah, mulai dari keasrian bentang alam pedesaan yang belum terpolusi hingga kearifan lokal yang kuat.
Namun, Jayadi sadar betul bahwa memindahkan kesuksesan Sembalun ke Brang Ene membutuhkan cetak biru yang matang serta pembenahan tata kelola dan mentalitas yang harus diselesaikan bersama seluruh pemangku kepentingan.
Sisi menarik dari pemikiran Jayadi adalah resistensinya terhadap komersialisasi buta. Di tengah syahwat banyak daerah yang berlomba mengejar angka kunjungan turis secara kuantitatif, ia justru memilih jalan yang lebih substansial dengan menekankan kelestarian lingkungan dan penjagaan identitas budaya lokal.
Menurutnya, pengembangan di empat desa tersebut tidak boleh mengorbankan keaslian daerah demi mengejar tren sesaat. Jayadi menginginkan pariwisata yang tumbuh secara autentik dan berkelanjutan, di mana modernisasi tidak lantas mengikis akar tradisi masyarakat setempat.
Pada akhirnya, kepulangan Jayadi dari Sembalun menjadi awal dari sebuah ujian konsistensi di Kabupaten Sumbawa Barat. Apakah optimisme yang menyala dari kunjungan tersebut akan meredup ditelan rutinitas birokrasi, atau justru mewujud menjadi kebijakan konkret yang menggerakkan roda ekonomi di Menemeng, Kelimantong, Mura dan Mujahidin?
Jayadi telah melempar sebuah wacana dan harapan besar. Kini, tantangannya berada pada sejauh mana kolaborasi antara pemerintah desa, pemerintah daerah, dan kemauan masyarakat Brang Ene sendiri mampu bersatu untuk mengubah nasib ekonomi mereka secara mandiri.(**)







