Dari buah tangan Rp25 ribu, Wardani mengubah kopi satu-satunya desa di Sumbawa Barat menjadi omzet Rp25 juta

Wardani hafal betul bunyi wajan itu.

Bukan bunyi letupan biji kopi, tapi bunyi lengannya yang pegal. Bertahun-tahun, ia berdiri membungkuk di atas api, mengaduk biji hijau yang pelan-pelan menghitam. Tujuh jam untuk 15 kilogram. Itu batasnya.

Pagi ini, di dapur UD Yuspita, Desa Rarak Ronges, bunyinya berbeda. Mesin roasting 10 kilogram berdengung stabil. Suhu di termometer 195 derajat. Wardani hanya perlu melihat dari kaca intip kecil dan mencium aromanya: cokelat dan gula aren.

Desa ini memang menggantung di awan. Di seluruh Kabupaten Sumbawa Barat, hanya Rarak Ronges yang menanam kopi. Kebunnya berada di 700-800 mdpl, tempat embun turun lebih lambat dan ceri matang lebih sabar.

Wardani bukan asli sini. Ia lahir di Brang Ene, masih satu kabupaten. Ia pindah ke Rarak Ronges karena menikah. Menikahi perempuan desa ini, lalu ikut menetap sebagai menantu.

Proses pengemasan Kawa Rama oleh ibu-ibu Desa Rarak Ronges. Dari plastik bening Rp25 ribu tahun 2017, kini jadi standing pouch foil emas.

“Saya bukan petani,” katanya. Ia tak pernah memetik ceri merah di lereng. Tugasnya ada di hilir.

Buah Tangan Rp25 Ribu

2017, semuanya masih iseng.

Setiap kali ke Taliwang untuk mengunjungi temannya di dinas, Wardani tak enak datang dengan tangan kosong. Ia membeli biji dari tetangga, membungkusnya apa adanya: plastik bening 250 gram seharga Rp25 ribu. Tanpa merek, tanpa label.

Ia sodorkan sebagai buah tangan.

Buah tangan itu tidak selesai di hari itu. Ia jadi pesanan.

“Berawal dari 2017, untuk buah tangan kalau berkunjung ke teman-teman. Dalam setiap kunjungan ke dinas di KSB, dari situ saya mulai dapat pelanggan,” kenangnya.

Dapur 15 Kilo

2018 ia naik kelas: dari biji mentah ke bubuk sangrai wajan. Hasilnya mentok 15 kg per bulan, omzet sekitar Rp2 juta.

2019 ia ikut pelatihan UMKM Pemda KSB. Di sana ia sadar, yang ia jual bukan sekadar bubuk, tapi cerita. Dan ceritanya bocor karena kemasan plastik tipis itu.

Ia perbaiki kemasan, memberi nama Kopi Rarak. Mulai dikenal di KSB, tapi grafiknya datar hingga 2023.

Sampai mobil berlogo AMMAN berhenti di depan lapaknya.

Disentuh AMMAN

PT Amman Mineral Nusa Tenggara datang bukan dengan karung uang, melainkan buku catatan kosong.

Wardani terpilih inkubasi intensif September 2021 – Maret 2022. Tim pendamping masuk ke dapur, membuka pembukuan yang kosong, membongkar cara menetapkan harga yang selama ini hanya berpatokan “yang penting laku”.

“AMMAN membantu kami branding, promosi, dan kelola keuangan,” ujarnya.

Dampaknya struktural. Plastik bening hilang, diganti standing pouch foil emas bertuliskan Kopi Rarak Kawa Rama. Pembukuan rapi. Dari keuntungan itulah wajan hitam dipensiunkan dan diganti mesin yang kini berdengung itu.

Tim PT Amman Mineral Nusa Tenggara saat mendampingi petani di demplot kopi percontohan Rarak Ronges (700-800 mdpl). Program lanjutan setelah inkubasi branding dan keuangan.

Angka bicara paling jujur: produksi dari 15 kg menjadi 120 kg per bulan. Omzet dari Rp2 juta menjadi Rp12 juta di titik sepi dan Rp25 juta di titik ramai.

Luka di Hulu

Semakin kencang mesin di hilir berputar, semakin terasa luka di hulu.

Sebagai penjual, ia bergantung penuh pada pasokan petani. Permintaan Kawa Rama naik, tapi karung yang masuk ke dapurnya menipis.

“Problemnya tetap muncul, terutama dari hulu. Produksinya kurang karena suplai bahan baku dari petani menurun,” keluhnya.

Di lapangan, ia melihat akar masalahnya: ceri dipetik masih hijau, dijemur di terpal kotor, mutu tak konsisten.

AMMAN kembali turun, kali ini ke akar.

2023, perusahaan itu menggandeng Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Jember untuk menyusun Baseline Studi Kopi Rarak. Riset untuk menjawab kenapa rasa dari desa yang menggantung ini khas.

2024, riset itu ditanam dalam bentuk demplot percontohan. Petani dan pelaku UMKM dikumpulkan. Wardani yang sudah punya mesin, duduk bersila di tanah bersama para pemasoknya, belajar memangkas dan memetik merah penuh.

Program dirancang hidup hingga 2026, meski pendampingan teknis rampung 2025.

Satu Pinta untuk Negara

Kini Kawa Rama sudah punya nama. Tapi Wardani tahu, tanpa perlindungan, nama itu mudah diterbangkan angin.

“Untuk Pemda KSB, mohon bantu kami di Rarak untuk bisa mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis agar kopi Rarak ini masuk ke jajaran kopi nusantara,” pintanya.

Wardani, pemilik UD Yuspita menunjukkan produk Kawa Rama. Usaha yang berawal dari oleh-oleh dinas tahun 2017 kini beromzet Rp12-25 juta per bulan.

Baginya, IG bukan sekadar piagam di dinding. Itu pengakuan negara bahwa kopi dari desa yang menggantung di awan itu otentik, setara dengan Gayo, Toraja, dan Kintamani.

Perjalanan dari buah tangan Rp25 ribu menjadi bisnis Rp25 juta sudah ia selesaikan, satu kilogram demi satu kilogram.

Kini ia menunggu negara mengubah nama kampung istrinya, dari sekadar Rarak Ronges, menjadi sebuah nama di peta kopi Indonesia.