SUMBAWA BARAT, Kanalsumbawa — Retreat Kepemimpinan Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Tahun 2026 telah berakhir. Namun, pesan utama dari kegiatan tersebut tidak berhenti pada penutupan, melainkan diarahkan untuk diterapkan dalam cara para pimpinan perangkat daerah bekerja dan mengambil keputusan.
Retreat yang berlangsung selama tiga hari, 17–19 September 2026, itu ditutup di Aula Paserang, Gedung Sekretariat Daerah KSB, Sabtu (19/9/2026). Sebanyak 42 peserta yang terdiri dari kepala perangkat daerah, asisten, staf ahli dan camat mengikuti rangkaian kegiatan yang diisi pembekalan, dialog serta kegiatan bersama.
Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., menekankan bahwa salah satu hal penting yang perlu dibawa pulang dari retreat adalah kemampuan membangun kerja bersama. Menurutnya, pemerintah daerah tidak dapat mencapai tujuan pembangunan apabila setiap perangkat daerah bekerja sendiri-sendiri.
“Terima kasih atas kebersamaan ini. Kita ini tidak akan mampu sendiri dalam mewujudkan tujuan. Kita harus bersama-sama, maka tujuan itu akan lebih mudah untuk kita capai,” kata Amar saat menutup kegiatan.
Pesan tersebut sejalan dengan materi yang diberikan sejak awal retreat. Bupati sebelumnya menekankan tiga nilai yang perlu menjadi pijakan kepemimpinan di lingkungan pemerintahan, yakni integritas, transformatif dan kolaboratif.
Integritas ditempatkan sebagai dasar dalam menjalankan amanah, sementara kepemimpinan transformatif menuntut pimpinan perangkat daerah mampu membaca perubahan dan merespons persoalan pelayanan. Adapun kolaborasi diperlukan karena persoalan pembangunan tidak berhenti pada batas kewenangan satu organisasi perangkat daerah.
Substansi retreat juga tidak hanya berbicara mengenai kepemimpinan secara umum. Para kepala perangkat daerah mendapatkan pembekalan mengenai Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), manajemen risiko dan akuntabilitas kinerja. Materi tersebut mendorong pimpinan OPD agar mampu mengenali potensi risiko sejak awal dan menjadikannya bagian dari dasar pengambilan keputusan.
Pada hari kedua, peserta juga mendapat penguatan mengenai mitigasi risiko hukum, pencegahan korupsi dan pengamanan program strategis daerah. Dengan materi tersebut, kepala perangkat daerah didorong tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memastikan program yang dijalankan memiliki pengendalian dan arah yang jelas.
Rangkaian retreat turut membuka ruang bagi peserta untuk belajar dari pengalaman para mantan pimpinan daerah. Dialog tersebut menjadi bagian dari refleksi untuk melihat kembali pengalaman pemerintahan sebelumnya sekaligus memahami tantangan yang dihadapi birokrasi saat ini.
Pada penutupan, peserta juga mengikuti outbound yang dipimpin langsung Bupati Amar Nurmansyah. Kegiatan berlangsung di kawasan Bendungan Tiu Suntuk, Kecamatan Brang Ene, serta secara indoor di Aula Paserang. Selain membangun kekompakan, kegiatan itu digunakan untuk melihat pola komunikasi, strategi dan cara peserta menghadapi persoalan secara bersama.
Penutupan retreat ditandai dengan pembacaan komitmen bersama seluruh peserta. Komitmen tersebut menjadi penegasan agar berbagai pembelajaran selama tiga hari tidak berhenti sebagai kegiatan internal, tetapi diterjemahkan dalam pelaksanaan tugas masing-masing perangkat daerah.
Dengan berakhirnya retreat, tantangan berikutnya berada pada penerapannya di lingkungan kerja. Nilai integritas, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, pengelolaan risiko dan kolaborasi lintas perangkat daerah kini menjadi bagian dari pesan yang harus dibawa para pimpinan OPD dalam menjalankan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat KSB.







