Sumbawa Barat, Kanalsumbawa — Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menyiapkan tiga kolam percontohan di Meraran sebagai langkah awal pengembangan budidaya ikan air tawar melalui teknologi. Program ini menjadi bagian dari Sumbawa Barat Maju Luar Biasa yang diarahkan untuk memperkuat produksi ikan lokal.

Kepala Dinas Perikanan KSB, Agus Purnawan, mengatakan Meraran dipilih sebagai kawasan pengembangan perikanan air tawar. Pengembangan itu dilakukan atas arahan Bupati Sumbawa Barat yang menginginkan adanya kawasan konsentrasi produksi ikan air tawar.

Meski demikian, kondisi Meraran memiliki tantangan tersendiri. Ketersediaan air menjadi persoalan utama karena sumber air tidak bertahan lama saat musim kemarau, sementara ketika musim hujan kawasan tersebut berpotensi mengalami banjir.

“Kalau musim kering begini, nggak ada sumber air. Kalaupun ada sumber air, airnya tidak akan bisa bertahan lama. Kalau musim barat, dia banjir,” kata Agus.

Untuk menyesuaikan budidaya dengan kondisi tersebut, Dinas Perikanan menyiapkan penggunaan teknologi dalam pengelolaan kolam. Beberapa pilihan yang disebut antara lain kolam terpal, bioflok hingga sistem resirkulasi dengan pola air yang terus mengalir.

“Teknologinya adalah teknologi tematik. Bisa kolam terpal, bisa kolam bioflok, bisa juga kolam sistem resirkulasi sistem. Jadi sistem air mengalir,” ujarnya.

Penerapan teknologi itu akan dimulai melalui tiga kolam sebagai percontohan. Agus mengatakan tahap awal tersebut akan menjadi pijakan sebelum pengembangan dilakukan lebih luas pada tahun berikutnya.

“Insya Allah tahun ini akan kita garap dia dan memberikan percontohannya di tahun ini, hanya untuk tiga kolam. Tahun depan akan kita kembangkan lagi,” jelasnya.

Pengembangan budidaya ikan air tawar di Meraran juga berkaitan dengan kebutuhan konsumsi ikan masyarakat KSB yang cukup tinggi. Pemerintah daerah ingin kebutuhan tersebut semakin banyak dipenuhi dari hasil produksi pembudidaya lokal.

Agus menyebut KSB masih mendatangkan sekitar 1.200 ton ikan setiap tahun dari Lombok dan kabupaten tetangga. Menurutnya, kondisi itu sekaligus menunjukkan besarnya pasar yang tersedia di dalam daerah.

“Kalau program ini kita jalankan kemudian berproduksi secara masif, pasarnya gimana? Saya bilang, nggak khawatir saya kalau pasar,” katanya.

Dengan memulai tiga kolam percontohan dan menyesuaikan sistem budidaya dengan kondisi kawasan, program tersebut diharapkan menjadi awal penguatan produksi ikan air tawar KSB. Dalam jangka berikutnya, pengembangan diharapkan dapat diperluas sehingga pasokan ikan untuk kebutuhan masyarakat semakin banyak berasal dari produksi lokal.(Nin-ks)