Sumbawa Barat, Kanalsumbawa – Nilai-nilai kearifan budaya Samawa tengah disiapkan untuk masuk ke ruang kelas di Kabupaten Sumbawa Barat. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) saat ini masih mematangkan kurikulum muatan lokal yang ditargetkan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2027.

Kurikulum tersebut tidak diarahkan sekadar untuk mengenalkan simbol atau atribut budaya kepada peserta didik. Muatan yang disusun diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter, sehingga nilai-nilai yang hidup dalam budaya Samawa dapat dipahami dan diterapkan dalam keseharian siswa.

Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa Barat, Agus, S.Pd., M.M., mengatakan penyusunan kurikulum membutuhkan proses yang bertahap. Materi dan substansi yang akan menjadi dasar pembelajaran saat ini masih dirumuskan oleh Lembaga Adat Tana Samawa (LATS).

“Ini bukan cuma sebatas seragam, melainkan lebih kepada pendidikan karakter berbasis budaya dan kearifan Samawa. Target utamanya adalah bagaimana nilai-nilai ini terinternalisasi, terimplikasi, dan terimplementasi dengan baik supaya anak-anak memahami nilai budaya daerahnya,” ujar Agus, Rabu (16/9/2026).

Menurut Agus, tahapan yang sedang berjalan menjadi bagian penting untuk memastikan nilai budaya yang nantinya dibawa ke sekolah memiliki materi dan arah pembelajaran yang jelas. Karena itu, proses penyusunannya tidak dilakukan sekaligus, tetapi melalui beberapa tahapan yang harus dilalui secara berurutan.

Ia menyebut, setidaknya terdapat lima hingga enam tahapan yang perlu diselesaikan dalam penyusunan kurikulum tersebut. Seminar yang telah dilaksanakan sebelumnya menjadi salah satu langkah awal untuk menyamakan pemahaman mengenai substansi kurikulum dengan visi pemerintah daerah dan arah kebijakan kepala daerah.

Perumusan materi dasar selanjutnya masih akan dilanjutkan oleh LATS melalui sejumlah agenda. Salah satunya kegiatan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada 21–22 September mendatang sebelum hasil penyusunan tersebut masuk ke tahapan berikutnya.

Setelah proses di LATS selesai, hasil perumusan akan diserahkan kepada Dinas Dikbud KSB. Pada tahap ini, perhatian akan bergeser pada kebutuhan penerapan kurikulum di sekolah, mulai dari bahan ajar hingga kesiapan tenaga pendidik.

“Setelah tuntas di ranah LATS, baru pihak Dikbud mengambil alih. Kami yang akan melanjutkan ke tahapan penyiapan pencetakan buku, pelatihan guru, serta kesiapan perangkat keras dan perangkat lunaknya,” jelas Agus.

Persiapan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rencana penerapan kurikulum pada tahun ajaran 2027. Dengan adanya buku, guru yang telah mendapat pembekalan, serta perangkat pembelajaran yang memadai, materi berbasis kearifan Samawa diharapkan dapat diterapkan secara lebih terarah di sekolah.

Agus berharap seluruh rangkaian penyusunan hingga persiapan teknis dan administratif dapat berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan. Dengan demikian, ketika memasuki tahun ajaran 2027, kurikulum muatan lokal berbasis kearifan Samawa sudah memiliki kesiapan yang cukup untuk diterapkan dalam pembelajaran.(Nin-ks)