Kanalsumbawa, JEREWEH – Misteri meninggalnya Nadya Dwi Ramadhany (21), mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram (Unram), masih menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi keluarga dan masyarakat Desa Beru, Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat.
Kepala Desa Beru, Joehari Effendy, berharap aparat kepolisian dapat segera menuntaskan penyelidikan dan mengungkap penyebab pasti kematian warganya tersebut, agar keluarga korban mendapatkan kepastian dan masyarakat tidak terus dibayangi spekulasi.
Nadya, yang berasal dari Dusun Bage Pungkur, Desa Beru, ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Jalan Sakura VII, Kelurahan Gomong, Kota Mataram, pada Minggu malam (17/5/2026). Hingga kini, penyebab kematiannya masih menunggu hasil autopsi dan penyelidikan lebih lanjut dari pihak kepolisian.
“Kami dari pemerintah desa terus mengikuti perkembangan informasi terkait kasus ini. Namun untuk proses penyelidikan, kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang,” ujar Joehari saat ditemui di Kantor Desa Beru. Kamis 21/05/2026
Kabar meninggalnya Nadya pertama kali diketahui masyarakat melalui pengumuman di masjid usai salat Subuh. Informasi itu sontak mengejutkan warga, mengingat Nadya dikenal sebagai salah satu putri daerah yang tengah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Mataram.
“Kami semua sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Apalagi almarhumah adalah warga kami yang sedang berjuang menempuh pendidikan. Tentu ini menjadi duka bersama,” katanya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga yang tengah berduka, Pemerintah Desa Beru langsung memberikan bantuan dan fasilitas yang dibutuhkan selama proses pemakaman.Bantuan tersebut meliputi penyediaan terpal, kursi, dan perlengkapan lain yang biasa disiapkan desa saat ada warga meninggal dunia.
Tak hanya itu, pemerintah desa bersama masyarakat juga turut hadir dalam rangkaian doa bersama, zikir, dan yasinan yang digelar keluarga korban sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi Nadya.
Di tengah banyaknya informasi yang beredar, Joehari juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Saat ini banyak spekulasi berkembang, baik di media sosial maupun dari mulut ke mulut. Kami mengajak masyarakat untuk bijak menyikapi informasi dan hanya berpegang pada keterangan resmi dari kepolisian,” tegasnya.
Ia berharap aparat kepolisian dapat bekerja maksimal agar fakta di balik kematian Nadya segera terungkap.
“Kami berharap kasus ini cepat menemukan titik terang. Kasihan keluarga yang masih berduka dan menunggu kepastian. Semoga pihak kepolisian bisa segera mengungkap fakta yang sebenarnya,” pungkas Joehari.
Saat ini, aparat kepolisian masih melakukan serangkaian penyelidikan, termasuk menunggu hasil autopsi yang diharapkan dapat menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat terkait meninggalnya mahasiswi asal Jereweh tersebut. (Nin)






