Lombok Tengah, Kanalsumbawa — Pencegahan pernikahan usia muda tidak cukup hanya dengan memberikan pemahaman mengenai risiko perkawinan. Remaja juga perlu memiliki ruang untuk mengenali diri, merencanakan masa depan, memahami relasi gender, serta membangun kemampuan mengambil keputusan dan menegosiasikan pilihan hidup.

Perspektif tersebut menjadi dasar pelaksanaan Program SEBINA (Sekolah Bina Kader Santri Bijak Nikah), sebuah program penguatan kesadaran sosial gender dalam pencegahan pernikahan usia muda. Program ini merupakan hasil kolaborasi Universitas Mataram (Unram) dengan Yayasan Attohiriyah Alfadiliyah yang dilaksanakan pada 19 September 2026 di Bodak, Desa Montong Terep, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan tim dosen Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Unram yang terdiri atas Dr. Anisa Puspa Rani, S.Pd., M.A., Dr. Dwi Setiawan Chaniago, S.Sos., M.A., dan Dr. Saipul Hamdi.

Kegiatan turut melibatkan mahasiswa serta 30 santri kelas XI dan XII SMA Attohiriyah Bodak. Peserta terdiri atas 15 santri perempuan dan 15 santri laki-laki yang sekaligus dipersiapkan menjadi kader peer education di lingkungan pesantren.

Program SEBINA berangkat dari kondisi masih tingginya angka pernikahan usia muda di Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, proporsi perempuan usia 20–24 tahun yang pernah menikah sebelum usia 18 tahun di NTB mencapai 14,96 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 5,90 persen.

Berdasarkan identifikasi bersama pihak sekolah, salah satu tantangan muncul ketika santri menyelesaikan pendidikan tingkat SMA dan kembali ke lingkungan keluarga. Pada fase tersebut, keputusan mengenai pendidikan lanjutan, pekerjaan, pasangan, dan perkawinan kerap berhadapan dengan harapan keluarga, kondisi sosial ekonomi, serta lingkungan masyarakat.

Karena itu, SEBINA menempatkan santri bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai individu yang memiliki agensi dalam merencanakan kehidupannya. Pendekatan yang digunakan adalah Community-Based Education dan Peer Education melalui pelatihan literasi gender serta kelas reflektif Life Dreams.

Dalam kelas Life Dreams, santri tidak hanya diajak memikirkan cita-cita pekerjaan, tetapi juga memetakan masa depan secara lebih utuh. Pembahasan mencakup rencana pendidikan, pekerjaan, keluarga, perkawinan, relasi gender, hingga kontribusi kepada masyarakat.

Santri juga diajak merefleksikan pihak-pihak yang dapat berperan dalam mewujudkan impian mereka, mulai dari orang tua, keluarga, guru, pengasuh, teman sebaya hingga media sosial.

Melalui proses tersebut, santri didorong memahami bahwa pilihan hidup tidak hanya terbentuk secara personal. Mereka juga perlu memiliki kemampuan bernegosiasi secara bertanggung jawab ketika aspirasi pribadi berhadapan dengan harapan keluarga maupun lingkungan sosial.

Menghubungkan Literasi Gender dan Nilai Keagamaan

Materi literasi gender diberikan untuk membantu santri merefleksikan pengalaman sehari-hari, seperti pembagian peran laki-laki dan perempuan, akses pendidikan, pekerjaan, pengambilan keputusan, pengasuhan anak, dan kehidupan keluarga.

Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan perspektif sosio-teologis mengenai perkawinan. Perkawinan tidak semata-mata dipahami sebagai tujuan hidup, tetapi sebagai amanah sosial yang membutuhkan kesiapan spiritual, psikososial, kesehatan, ekonomi, dan sosial.

Dengan pendekatan tersebut, pesan pencegahan tidak berhenti pada larangan menikah di usia muda. Santri justru diarahkan untuk mampu merefleksikan dan mengukur kesiapan dirinya sebelum mengambil keputusan serta menjalani kehidupan berkeluarga.

Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para santri. Mereka aktif mengikuti diskusi mengenai peran gender, konsekuensi pernikahan usia muda, serta pentingnya perencanaan masa depan.

Para santri juga menyatakan komitmen untuk menjadi kader peer education. Mereka diharapkan dapat menjadi teman diskusi bagi santri lainnya terkait perencanaan masa depan, relasi gender, kesiapan berkeluarga, dan upaya mewujudkan life dreams.

Dengan demikian, santri tidak hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun perubahan di lingkungan pesantren.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan pihak Yayasan Attohiriyah Alfadiliyah. Kepala Sekolah SMA Attohiriyah Bodak, Sahwi, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan SEBINA penting untuk memperkuat kapasitas santri dalam menghadapi fase perencanaan masa depan.

Menurutnya, sekolah juga mendorong langkah konkret untuk menekan pernikahan usia muda dengan memfasilitasi alumni yang menghadapi kendala ekonomi agar dapat terlibat dalam aktivitas kerja di lingkungan pesantren.

Kesempatan tersebut tersedia melalui sejumlah unit usaha yang dikelola yayasan, antara lain sekolah, rumah sakit, unit konservasi, dan unit usaha lainnya.

Langkah tersebut memperluas pendekatan pencegahan pernikahan usia muda, yang tidak hanya dilakukan melalui pemberian pemahaman, tetapi juga dengan mendorong santri dan alumni agar memiliki peluang untuk lebih berdaya secara sosial dan ekonomi.

Program SEBINA turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kelima tentang kesetaraan gender. Kontribusi tersebut dilakukan melalui penguatan kapasitas remaja dalam merencanakan pilihan hidup secara lebih terarah dan bertanggung jawab.

Program ini menunjukkan bahwa upaya mencegah pernikahan usia muda membutuhkan ekosistem yang melibatkan universitas, pesantren, santri, keluarga, serta jejaring alumni.

Melalui kelas Life Dreams, santri didorong mengenali potensi diri, meningkatkan literasi gender, serta membangun kemampuan bernegosiasi dalam mengambil keputusan personal yang tetap mempertimbangkan tuntutan dan kondisi sosial di sekitarnya.