SUMBAWA BARAT, Kanalsumbawa– Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menargetkan pemetaan Indeks Kesadaran Ber STBM (IKB-STBM) dari seluruh desa dapat terkumpul dalam waktu 30 hari sejak gerakan KSB Sadar STBM diluncurkan. Pemetaan ini dikebut untuk mengetahui kondisi lima pilar sanitasi sekaligus melihat bagian yang masih membutuhkan penguatan di masing-masing desa.
Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof, M.MRS., MQM., mengatakan proses pemetaan dilakukan bersama Puskesmas. Target tersebut menjadi langkah awal untuk mendapatkan gambaran kondisi STBM hingga tingkat desa, bukan hanya melihat capaian secara umum di tingkat kabupaten.
“Target kita 30 hari ke depan sejak dilaunching kita bisa mendapatkan IKB-STBM dari masing-masing desa,” kata dr. Carlof, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, kondisi setiap desa perlu dilihat secara lebih rinci karena persoalan sanitasi yang dihadapi tidak selalu sama. Data IKB-STBM nantinya dapat menunjukkan indikator mana yang masih lemah sehingga penguatan bisa diarahkan pada persoalan yang benar-benar ditemukan di lapangan.
IKB-STBM mencakup lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), yakni tidak buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, serta pengelolaan limbah cair rumah tangga.
Dari lima pilar tersebut, pengelolaan sampah rumah tangga dan limbah cair rumah tangga menjadi perhatian lebih Dinas Kesehatan. Dua persoalan ini dinilai lebih kompleks karena tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah dan limbah sehari-hari.
“Pilar empat dan lima ini relatif lebih kompleks dan membutuhkan keterlibatan lintas sektor serta perubahan perilaku yang konsisten,” ujarnya.
Setelah seluruh data terkumpul, Dinas Kesehatan akan melihat desa dan indikator yang masih rendah untuk menentukan bagian yang membutuhkan pendampingan. Puskesmas akan terlibat dalam tindak lanjut bersama pemerintah desa, kecamatan, kader, dan OPD terkait.
Dengan pemetaan tersebut, penguatan STBM tidak harus diberikan dengan pola yang sama kepada seluruh desa. Persoalan yang ditemukan menjadi dasar untuk menentukan bentuk pendampingan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Upaya ini juga menjadi bagian dari KSB Sadar STBM yang tidak berhenti pada pencapaian angka STBM 100 persen. Dinas Kesehatan ingin melihat apakah lima pilar tersebut benar-benar sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan mampu dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
“Target kita bukan sekadar mendapatkan predikat 100 persen, tetapi memastikan lima pilar STBM benar-benar menjadi kesadaran perilaku masyarakat dan dapat dipertahankan,” kata dr. Carlof.
Setelah 30 hari, data dari masing-masing desa diharapkan sudah memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi STBM di KSB. Dari sana, desa yang masih memiliki persoalan pada indikator tertentu dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan, sehingga pemetaan tidak berhenti sebagai data, tetapi menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya.(Nin-ks)







