Sumbawa Barat, Kanalsumbawa – Upaya mendorong lahirnya inovasi yang berdampak bagi masyarakat terus dilakukan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumbawa Barat. Melalui Anugerah Inovasi Daerah 2026, BRIDA tidak hanya mencari karya terbaik, tetapi juga menyiapkan pendampingan lanjutan hingga pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi inovasi yang memiliki potensi untuk berkembang lebih luas.
Kepala Bidang Inovasi dan Teknologi BRIDA KSB, Indra Jaya, S.Pt., M.Si
., saat ditemui di Taliwang, Kamis (11/6/2026), mengatakan ajang tersebut merupakan agenda tahunan yang dirancang untuk menjaring inovasi dari berbagai kalangan, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah hingga masyarakat umum.
“Tujuan lomba inovasi ini tidak hanya rutinitas seremonial, tetapi sebagai wadah menjaring inovasi terbaik di Kabupaten Sumbawa Barat. Sumber inovasi kita berasal dari masyarakat, sekolah maupun OPD,” ujarnya.
Tahun ini, BRIDA mengangkat tema “Inovasi Produktif dan Berkelanjutan Mendukung Pertumbuhan Klaster Ekonomi Baru Pasca-Tambang.” Tema tersebut diselaraskan dengan arah pembangunan daerah yang saat ini berfokus pada penguatan sektor pariwisata, agribisnis, peternakan, serta UMKM sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Antusiasme peserta mulai terlihat menjelang penutupan pendaftaran pada 16 Juni 2026. Hingga pekan ini, tercatat 20 peserta telah mendaftarkan diri, terdiri dari sembilan peserta kategori OPD, sembilan kategori sekolah, dan dua peserta dari kategori masyarakat. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah dalam beberapa hari ke depan.
Indra menjelaskan, inovasi yang diikutsertakan tidak cukup hanya berupa gagasan di atas kertas. Setiap peserta harus mampu menunjukkan bahwa inovasi tersebut telah diterapkan dan memberikan manfaat nyata. Karena itu, proses seleksi akan melalui tahapan penilaian proposal, wawancara, hingga verifikasi lapangan.
“Yang dinilai bukan hanya gagasannya, tetapi implementasinya. Kami melihat manfaatnya, keberlanjutannya, jumlah pengguna, dan dampaknya bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, inovasi tidak selalu identik dengan aplikasi atau teknologi digital. Program pemberdayaan masyarakat, metode pelayanan publik, maupun teknologi tepat guna yang mampu menghadirkan solusi baru terhadap persoalan di lingkungan sekitar juga memiliki peluang yang sama untuk dinilai sebagai inovasi unggulan daerah.
Meski demikian, pengembangan inovasi di daerah masih menghadapi sejumlah kendala. Keterbatasan dukungan anggaran, minimnya pendampingan lanjutan, hingga mutasi pegawai sering kali membuat inovasi yang telah berjalan baik kehilangan keberlanjutannya.
“Ada inovasi yang sudah bagus, tetapi pengelolanya dimutasi atau dukungannya berkurang. Padahal inovasi yang baik harus terus aktif, berkembang, dan memberikan manfaat. Masyarakat yang berinovasi juga sebagian besar masih bergerak secara mandiri,” ungkap Indra.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIDA menyiapkan berbagai bentuk dukungan, mulai dari diseminasi inovasi potensial, pendampingan menuju ajang Innovative Government Award (IGA) Kementerian Dalam Negeri, hingga fasilitasi pendaftaran HAKI yang telah dianggarkan melalui APBD.
“Ke depan kami ingin inovasi yang lahir tidak berhenti saat lomba selesai. Inovasi harus terus berkembang, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Nilai terbesar sebuah inovasi adalah ketika inovasi itu terus hidup dan digunakan,” Tutupnya.(Nin-ks)







