SUMBAWA BARAT, Kanalsumbawa — Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai diarahkan tidak sekadar mengejar pembangunan destinasi dan fasilitas wisata. Pemerintah daerah kini memberi perhatian lebih pada kesiapan warga yang nantinya menjadi pengelola sekaligus pelaku utama di dalamnya.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) KSB, Nurdin Rahman, S.E., mengatakan pembangunan fasilitas wisata relatif dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, keberadaan fasilitas tersebut belum cukup jika tidak diikuti kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi wisata secara berkelanjutan.

Menurutnya, tantangan yang lebih besar justru berada pada penguatan sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan di tingkat desa. Mulai dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis), BUMDes, hingga komunitas lokal perlu memiliki pembagian peran dan tata kelola yang jelas.

“Kalau membangun fasilitas itu sederhana, enam bulan bisa selesai. Tapi bagaimana mengelolanya, bagaimana SDM-nya, ini yang sangat perlu kita bangun,” kata Nurdin.

Ia melihat perkembangan teknologi juga membawa perubahan pada pola kerja generasi muda. Banyak anak muda kini memiliki kemampuan untuk bekerja secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi digital. Potensi tersebut, kata dia, perlu diarahkan agar tetap terhubung dengan lingkungan sosial dan potensi ekonomi di daerahnya.

Karena itu, Disparpora mendorong pembentukan komunitas yang dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk bekerja secara bersama-sama. Peran mereka dapat dibagi sesuai kemampuan, mulai dari pengelolaan, promosi digital, hingga menjadi pemandu bagi wisatawan.

“Kita membentuk komunitas agar masyarakat bisa mengelola bersama,” ujarnya.

Salah satu contoh yang dikembangkan adalah Bale Bahasa yang melibatkan sekitar 25 pemuda lokal. Mereka dibekali kemampuan berkomunikasi menggunakan sejumlah bahasa asing, di antaranya Inggris, Arab dan Korea, untuk mendukung pelayanan kepada wisatawan yang datang ke KSB.

Kemampuan tersebut kemudian dipadukan dengan pemasaran digital untuk mengenalkan destinasi, termasuk Bungalo Bintang Bano. Menurut Nurdin, pola promosi yang dilakukan kelompok pemuda itu menunjukkan bahwa anak muda lokal dapat mengambil peran lebih besar dalam menggerakkan sektor pariwisata.

Kolaborasi juga mulai diperluas dengan melibatkan mahasiswa asing dari Australia yang datang untuk tinggal dan mempelajari kehidupan serta kearifan lokal masyarakat KSB. Bagi pemerintah daerah, interaksi semacam itu sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat dari luar negeri.

Untuk memperkuat konsep tersebut, Disparpora juga menggandeng kalangan akademisi. Nurdin menyebut pihaknya telah membawa gagasan pengembangan pariwisata kerakyatan kepada akademisi di Universitas Mataram untuk mendapatkan penguatan dari sisi kelembagaan dan tata kelola.

Konsep yang dibangun tidak hanya diarahkan untuk mendatangkan wisatawan. Pemerintah daerah ingin masyarakat desa memiliki posisi sebagai pelaku yang memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata, sekaligus tetap menjaga lingkungan dan nilai lokal yang menjadi daya tarik daerah.

“Tujuan pariwisata kerakyatan ini agar masyarakat meningkatkan pendapatan dan merasakan posisi sebagai pelaku, bukan sebagai buruh,” tegas Nurdin.(Nin-ks)