JAKARTA, Kanalsumbawa – Ekonomi tumbuh tinggi, tetapi manfaatnya harus sampai ke kantong rakyat. Inilah pesan tegas Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, di panggung The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta. Ia menekankan, ekonomi kreatif tak boleh berhenti sebagai industri yang menjanjikan keuntungan, tetapi harus menjadi jalan bagi petani, pelaku UMKM, dan masyarakat kecil untuk meningkatkan pendapatan. Kuncinya, menghubungkan potensi pertanian dan pariwisata dengan inovasi yang mampu mendongkrak nilai jual produk lokal.
Dalam forum internasional tersebut, Iqbal menyoroti pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.
Ia menyebut ekonomi NTB mencatat pertumbuhan sebesar 10,42 persen pada semester I 2026. Capaian tersebut menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi daerah, sekaligus tantangan agar manfaat pertumbuhan dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Salah satu strategi yang didorong adalah menyinergikan sektor pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Ketiga sektor ini memiliki potensi untuk saling menguatkan, mulai dari pemanfaatan hasil pertanian sebagai bahan baku produk kreatif hingga pemasaran produk lokal kepada wisatawan.
Iqbal menegaskan, ekonomi kreatif tidak selalu membutuhkan industri besar atau modal dalam jumlah besar. Kreativitas dan kemampuan membaca peluang pasar justru dapat menjadi modal penting bagi masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi dari usaha yang telah dijalankan.
Ia mencontohkan pedagang kelapa di kawasan Mandalika yang berinovasi mengolah kelapa muda menjadi coconut smoothie dengan kemasan lebih menarik. Inovasi sederhana tersebut disebut mampu meningkatkan nilai jual produk hingga tiga kali lipat.
Contoh itu memperlihatkan bahwa perubahan cara mengolah dan menyajikan produk dapat membuka peluang pendapatan yang lebih besar. Produk yang sebelumnya dijual dalam bentuk biasa bisa memiliki nilai tambah ketika dikembangkan sesuai selera pasar dan kebutuhan konsumen.
Bagi NTB, pendekatan tersebut juga berkaitan dengan pengembangan pariwisata. Kehadiran wisatawan dan penyelenggaraan ajang internasional semestinya tidak hanya menguntungkan sektor akomodasi dan jasa wisata, tetapi turut membuka pasar bagi produk UMKM, kerajinan, kuliner, serta hasil pertanian lokal.
Karena itu, Iqbal mendorong agar momentum pariwisata dan kegiatan internasional dapat dimanfaatkan untuk memperluas kesempatan usaha masyarakat. Keterlibatan pelaku UMKM dan produsen lokal menjadi penting agar perputaran ekonomi tidak terpusat pada sektor tertentu.
Penguatan ekonomi kreatif diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membantu menekan angka kemiskinan. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi NTB tidak hanya terlihat dalam statistik, tetapi juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.**







