SUMBAWA BARAT, Kanalsumbawa– Anak-anak hari ini tumbuh di tengah perubahan yang bergerak cepat. Di satu sisi, mereka dituntut mampu mengikuti perkembangan zaman, sementara di sisi lain nilai adat dan kepribadian lokal dinilai mulai semakin jauh dari kehidupan mereka.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah, ST., M.Si. Ia mendorong agar nilai-nilai tradisi Sumbawa tidak hanya dikenalkan sebagai bagian dari budaya daerah, tetapi juga dapat menjadi bekal bagi anak dalam membentuk sikap dan kepribadian.

Gagasan itu disampaikan Amar saat menutup Loka Karya Penyusunan Bahan Ajar Muatan Lokal Nilai-Nilai Tradisi Sumbawa di Sumbawa Barat, Selasa, 22 September 2026.

“Di zaman kekinian, tantangan kehidupan mereka jauh lebih besar. Tantangan untuk berkembang juga semakin besar. Jauh lebih mudah kita hari ini dibanding mereka,” kata Amar.

Menurutnya, perkembangan zaman membawa tantangan tersendiri dalam proses tumbuh kembang anak. Pada saat yang sama, nilai-nilai yang dahulu dekat dengan kehidupan masyarakat bisa semakin jarang ditemui oleh generasi muda.

“Nilai adat, kepribadian semakin terkikis, semakin asing di dunia anak-anak hari ini. Di satu sisi tumbuh kembang tetap terjadi, dan di sisi lain nilai kepribadian kita yang kelokalan berbalik menjadi nilai asing bagi kita,” ujarnya.

Karena itu, Amar ingin nilai-nilai tersebut memiliki ruang dalam pendidikan. Menurutnya, sekolah dapat menjadi salah satu tempat untuk mengenalkan kembali nilai lokal dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan anak.

“Saya berpikir keras untuk bisa membuat bahan ajar yang menunjukkan nilai-nilai kelokalan yang bisa membangun kepribadian,” katanya.

Ia menilai sumber pembelajaran itu tidak selalu harus berupa tradisi dalam bentuk kegiatan adat. Bahasa Sumbawa, misalnya, memiliki sejumlah istilah yang menurutnya menyimpan nilai dan dapat digunakan untuk mengenalkan etika kepada peserta didik.

Salah satunya *ila* atau *pina ila*. Amar menyebut istilah tersebut memiliki nilai yang berkaitan dengan rasa malu dan dapat menjadi contoh bagaimana bahasa lokal diterjemahkan menjadi pembelajaran.

“Contoh bahasanya, bahasa yang punya nilai yang menunjukkan satu nilai tertentu. Contohnya *ila, pina ila*. Ada standar nilai yang membentuk rasa malu,” jelasnya.

Namun, menurut Amar, memasukkan nilai tradisi ke dalam pembelajaran tidak cukup hanya dengan mengumpulkan istilah atau cerita budaya. Dibutuhkan cara yang tepat agar nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi bahan ajar yang sesuai dengan dunia anak.

“Untuk mengetahui itu bagaimana caranya, melalui bahasa-bahasa lokal yang memiliki nilai. Mencari formula yang tepat harus kita serahkan kepada pakarnya,” ujarnya.

Pembahasan mengenai hal tersebut menjadi bagian dari loka karya yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan KSB bersama Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Kamutar Telu KSB pada 21–22 September 2026. Unsur guru, pengawas sekolah, MKKS, dinas pendidikan dan lembaga adat ikut terlibat dalam penyusunan konsep bahan ajar.

Selain materi, Amar menilai kesiapan guru juga menjadi bagian penting. Pemahaman terhadap nilai yang diajarkan perlu berjalan bersama dengan kemampuan guru menyampaikannya kepada peserta didik.

“Kita ajarkan pelatihan guru-guru muatan lokal, mulai dari pemahaman sampai cara pengajaran,” tegasnya.

Dengan pendekatan tersebut, nilai tradisi Sumbawa diharapkan tetap memiliki ruang dalam kehidupan generasi muda, bukan hanya sebagai pengetahuan tentang masa lalu, tetapi sebagai nilai yang dapat mereka pahami dalam menghadapi kehidupan hari ini.