Sumbawa Barat, Kanalsumbawa – Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mendorong setiap desa mengembangkan potensi lokal menjadi identitas wisata yang khas. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan konsep pariwisata kerakyatan dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengelolaan potensi di desanya.
Kepala Disparpora KSB, H. Nurdin Rahman, S.E., mengatakan setiap desa memiliki keunggulan masing-masing yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Potensi tersebut bisa bersumber dari sejarah, budaya, alam maupun kekayaan kuliner yang dimiliki masyarakat setempat.
“Setiap desa di Sumbawa Barat punya keunggulan tersendiri yang bisa dijual. Konsep pariwisata kerakyatan ini menekankan bagaimana masyarakat bisa berpartisipasi aktif dan mengelola potensi desanya secara berkelanjutan,” ujar Nurdin, Rabu (30/9).
Salah satu contoh yang disebut Nurdin adalah Desa Seloto. Desa tersebut memiliki sejarah keislaman yang kuat sehingga berpeluang dikembangkan dengan identitas sebagai Desa Santri. Selain itu, Seloto memiliki kuliner tradisional seperti sumpin dan tabang pengok yang dapat menjadi bagian dari kekhasan lokal.
Desa Banjar juga memiliki potensi yang berbeda melalui keberadaan sungai yang bersih dan tidak pernah kering. Potensi tersebut dapat dikembangkan untuk aktivitas seperti kano dan lomba perahu kecil, sekaligus dipadukan dengan kuliner di tepi sungai serta kawasan hijau.
Potensi sejarah juga terdapat di Pantai Balat yang merupakan bekas pelabuhan pada era Belanda dan pernah menjadi bagian dari aktivitas perdagangan lintas negara. Sementara di kawasan Maluk, perkembangan aktivitas industri smelter membuka peluang pengembangan usaha pendukung, termasuk pusat kuliner Nusantara.
Menurut Nurdin, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat perlu diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia dan kelembagaan. Karena itu, Disparpora KSB terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai sadar wisata dan hospitality agar masyarakat memiliki kemampuan dalam mengelola potensi yang dimiliki.
“Pembangunan fasilitas itu mudah dan cepat. Namun, yang paling berat adalah membangun kapasitas masyarakatnya. Sebelum gempuran investasi dan digitalisasi masuk, BUMDes, pemuda, dan Pokdarwis harus sudah siap,” tegasnya.
Selain penguatan SDM, Disparpora KSB mendorong pembentukan BUMDes Bersama untuk mengelola kawasan wisata antardesa. Upaya tersebut antara lain diarahkan di wilayah Brang Enek dan Brang Rea, sehingga potensi wisata dapat dikelola secara lebih terarah dengan melibatkan masyarakat setempat.
Untuk memperkuat pengembangan tersebut, Disparpora KSB juga menjajaki kerja sama dengan Universitas Mataram (Unram). Kolaborasi itu diarahkan untuk menyusun tata kelola pariwisata berbasis masyarakat yang terukur dan berkelanjutan, sekaligus membantu desa mengembangkan potensi khasnya agar semakin bernilai bagi masyarakat.(Nin-ks)







