Taliwang, Kanalsumbawa– Informasi yang menyebut anak Panti Asuhan Baiti Nurjannah tidak mendapat penanganan di RSUD Asy-Syifa hingga harus dibawa ke Bali mendapat penjelasan dari rumah sakit. Berdasarkan rekam medis yang disampaikan, pasien sebelumnya telah menjalani pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan di RSUD Asy-Syifa.

Direktur RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat Andy Suhaeri, S.ST., M.M.Inov melalui Kasi Keperawatan Suad, S.Keb., mengatakan pasien dengan diagnosis hidrosefalus dan epilepsi tersebut bukan baru pertama kali mendapat pelayanan medis di rumah sakit setempat.

Suad menjelaskan, salah satu catatan pemeriksaan menunjukkan pasien bernama Nurhayati datang ke Klinik Anak RSUD Asy-Syifa pada 18 Mei 2026. Saat itu, pasien tidak mengalami keluhan kejang dan dari pemeriksaan awal tidak ditemukan indikasi untuk dilakukan rujukan.

“Pasien ini datang ke kami ke klinik anak tanggal 18 Mei 2026. Saat itu tidak ada keluhan kejang dan tidak ada indikasi untuk dirujuk,” kata Suad saat ditemui, Rabu (12/8/2026).

Setelah dari Klinik Anak, pasien kemudian diperiksa di Poli Saraf untuk evaluasi hidrosefalus. Di sana, pasien meminta rujukan ke Bali. Namun, pemeriksaan EEG yang dibutuhkan saat itu sebenarnya telah direncanakan untuk dilakukan di Sumbawa karena layanan tersebut tersedia.

Pasien selanjutnya mendapat rujukan dari Poli Saraf ke RSUP Mataram. Karena membutuhkan pemeriksaan dan layanan dokter neuro anak, pasien kemudian melanjutkan pemeriksaan ke RS Sanglah, Bali. Tim RSUD Asy-Syifa juga ikut mendampingi ketika pemeriksaan dilakukan di sana.

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan di Bali adalah EEG. Hasil pemeriksaan yang keluar pada 3 Agustus 2026 masih mencantumkan diagnosis epilepsi dan pasien masih membutuhkan pengobatan. Untuk obat epilepsi, Suad mengatakan obat tersebut tersedia di RSUD Asy-Syifa.

“Bukan berarti semuanya tidak bisa ditangani di sini. Bisa. Ada dokter spesialis anak kami, ada juga saraf. Memang yang dicari itu dokter saraf anak,” ujarnya.

Menurut Suad, persoalannya lebih pada ketersediaan dokter dengan kompetensi tertentu. RSUD Asy-Syifa memiliki dokter spesialis anak dan dokter spesialis saraf, sedangkan kebutuhan dokter neuro anak dapat ditindaklanjuti melalui rujukan apabila memang diperlukan.

Ia juga menyoroti pentingnya rujukan balik bagi pasien yang menjalani pemeriksaan di luar daerah. Dengan adanya rujukan balik, dokter di RSUD Asy-Syifa dapat mengetahui hasil pemeriksaan dan melanjutkan pengobatan yang masih bisa diberikan di daerah.

“Kalau misalnya berobat ke mana, nanti ada rujukan baliknya. Supaya kita tahu tindak lanjutnya setelah pengobatan,” jelasnya.

Suad mengatakan rekam medis yang ditunjukkan juga mencatat pasien tersebut sebelumnya pernah mendapatkan pelayanan di RSUD Asy-Syifa, termasuk menjalani rawat inap. Karena itu, menurut dia, rujukan ke Bali dalam kasus tersebut merupakan bagian dari proses pelayanan ketika pasien membutuhkan pemeriksaan atau dokter tertentu yang belum tersedia di daerah.(nin-ks)