Taliwang, Kanalsumbawa – TRC Ambulans Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tidak hanya digunakan untuk menangani kondisi kegawatdaruratan. Layanan yang menjadi bagian dari Program KSB Maju, Maju Kesehatan tersebut juga dikembangkan untuk menjangkau berbagai kebutuhan kesehatan masyarakat secara langsung.
Hingga September 2026, TRC Ambulans telah mencatat 31.348 layanan kepada masyarakat. Dari jumlah tersebut, 86,24 persen merupakan layanan non-emergency, 12,04 persen layanan terjadwal, sedangkan 1,55 persen lainnya merupakan layanan emergency.
Komposisi itu memperlihatkan bahwa sebagian besar pelayanan TRC Ambulans justru berada di luar kondisi kegawatdaruratan. Layanan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat, termasuk melalui pelayanan yang dilakukan langsung di lingkungan tempat tinggal warga.
Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof, M.MRS., MQM, menjelaskan bahwa konsep TRC Ambulans memang dirancang lebih luas dibandingkan fungsi ambulans pada umumnya. Menurutnya, layanan tersebut mencakup kebutuhan emergency, non-emergency hingga pelayanan yang telah direncanakan.
“Di banyak daerah, ambulans lebih dikenal sebagai layanan untuk kondisi kegawatdaruratan dan transportasi pasien. Di Sumbawa Barat, TRC Ambulans kami kembangkan lebih luas. Layanan ini menjangkau berbagai kebutuhan kesehatan masyarakat, baik emergency, non-emergency maupun pelayanan yang telah direncanakan,” jelasnya. 30/9/26
Carlof mengatakan, salah satu perbedaan pelayanan tersebut terletak pada pola pendekatannya. Masyarakat tidak selalu harus datang terlebih dahulu ke fasilitas kesehatan karena tenaga kesehatan melalui TRC Ambulans dapat mendatangi warga yang membutuhkan pelayanan.
“Prinsipnya adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan hanya pasien yang datang ke Puskesmas, tetapi melalui TRC Ambulans, tenaga kesehatan bersama sarana pelayanan bergerak datang langsung ke rumah masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Dari jenis masalah kesehatan yang ditangani, hipertensi menjadi kasus dengan proporsi terbesar, yakni 32,92 persen. Berikutnya diabetes melitus 12,71 persen, cephalgia atau sakit kepala 11,78 persen, serta gastritis sebesar 7,89 persen. Data tersebut menunjukkan layanan TRC Ambulans juga banyak bersentuhan dengan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan dan pemantauan di luar situasi darurat.
Pemanfaatan layanan ini juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025 tercatat 6.609 layanan, sedangkan hingga 20 September 2026 jumlahnya telah mencapai 31.348 layanan atau sekitar 4,7 kali dari total layanan sepanjang 2025.
Dengan pola pelayanan tersebut, TRC Ambulans kini tidak hanya diposisikan sebagai sarana membawa pasien menuju fasilitas kesehatan. Melalui Program KSB Maju, Maju Kesehatan, layanan ini dikembangkan sebagai salah satu cara pemerintah daerah menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih aktif dan menjangkau masyarakat sesuai kebutuhan di lapangan.(Nin-ks)







