Sumbawa Barat, Kanalsumbawa — PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), perusahaan tambang tembaga dan emas yang beroperasi di Kabupaten Sumbawa Barat, kembali menorehkan prestasi di bidang keberlanjutan. Perusahaan ini meraih penghargaan tertinggi kategori Waste Management pada ajang Lestari Awards 2026 yang digelar di Jakarta, 28 Juli 2026, berkat program lingkungan bernama Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) yang telah dijalankan sejak 2022.

Penghargaan ini menjadi bukti keseriusan AMMAN dalam mengintegrasikan isu keberlanjutan ke dalam program tanggung jawab sosialnya, khususnya lewat pendekatan yang menyasar dunia pendidikan. Lewat PPSS, perusahaan mendorong sekolah-sekolah dasar dan menengah pertama di wilayah operasionalnya untuk tidak lagi memandang sampah sebagai persoalan, melainkan sebagai sumber daya yang bisa dikelola dan memberi nilai balik bagi lingkungan maupun komunitas sekitar.

Di lapangan, pendekatan ini terlihat dari aktivitas sehari-hari siswa di sekolah-sekolah dampingan AMMAN: memilah sisa makanan dan dedaunan, lalu membawanya ke Rumah Kompos (RUMPOS) untuk diolah menjadi pupuk bernama POSTA, singkatan dari Pupuk Organik Sekolah Kita.

Yang membedakan PPSS dari program pengelolaan sampah pada umumnya adalah cara AMMAN merancang programnya, bukan sekadar menyediakan tempat sampah atau alat pengolah, melainkan menyisipkan isu lingkungan ke dalam proses belajar-mengajar sehari-hari. Guru-guru dilatih untuk mengaitkan materi pelajaran dengan praktik pengelolaan sampah, sementara siswa turun langsung mempraktikkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) di lingkungan sekolah mereka.

Vice President Policy & Permitting dan Social Impact AMMAN, Priyo Pramono, mengatakan program ini pada dasarnya ingin menjadikan sekolah sebagai titik tolak perubahan perilaku, bukan hanya tempat mengelola sampah.

“Dengan program ini, AMMAN turut membangun ekosistem yang mengembangkan generasi muda masa depan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Keberhasilan PPSS tidak hanya terlihat dari jumlah sampah yang dikelola, tetapi dari tumbuhnya kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar. Ketika pemahaman itu tumbuh di kalangan siswa, guru, dan keluarga, dampaknya meluas dari sekolah ke masyarakat,” ujar Priyo.

Program ini pertama kali diperkenalkan pada 2022 dengan hanya dua sekolah percontohan. Empat tahun berjalan, PPSS kini telah menjangkau enam sekolah aktif, melibatkan ribuan siswa, guru, orang tua, serta didukung puluhan karyawan AMMAN yang turun sebagai relawan.

Dari sisi angka, capaian program ini terbilang cukup signifikan. Sepanjang 2022 hingga 2025, PPSS tercatat telah mengelola lebih dari 150 ton sampah organik dan menghasilkan lebih dari 50 ton kompos POSTA. Pupuk hasil olahan siswa ini tidak berhenti di lingkungan sekolah saja, tetapi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian masyarakat sekitar hingga mendukung kegiatan reklamasi lahan di area operasional AMMAN. Pada 2025 saja, program ini disebut berhasil menghindari emisi sebesar 11 ton.

Ada pula indikator lain yang menarik untuk dicermati, yakni nilai Social Return on Investment (SROI) program yang mencapai 4,09. Sederhananya, setiap Rp1 yang diinvestasikan dalam program ini diperkirakan menghasilkan Rp4,09 nilai balik, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Yang tak kalah menarik, sejumlah sekolah yang awalnya menjadi peserta program kini mulai menjalankan praktik pengelolaan sampah secara mandiri tanpa lagi bergantung pada pendanaan AMMAN. Beberapa di antaranya bahkan sudah mengantongi penghargaan Adiwiyata di tingkat provinsi maupun nasional, sebuah indikasi bahwa kebiasaan baik yang ditanamkan lewat PPSS mulai mengakar dan berjalan dengan sendirinya.

Penghargaan dari Lestari Awards ini pada akhirnya bukan hanya soal capaian angka atau piala yang dibawa pulang, melainkan cermin dari kerja kolektif banyak pihak, mulai dari siswa dan guru yang menjalankan program di lapangan, orang tua yang mendukung dari rumah, pemerintah daerah, mitra pelaksana, hingga karyawan AMMAN yang terlibat sebagai relawan. Bagi Sumbawa Barat, kisah tentang sampah sekolah yang berubah jadi pupuk ini barangkali bisa menjadi contoh kecil bahwa perubahan besar soal lingkungan bisa saja dimulai dari ruang kelas.**