Seloto, KanalSumbawa.- Bagi Syamsudin, S.Pd., Kepala SD Negeri Seloto, persoalan perundungan bukan isu jauh yang hanya muncul di berita. Ia mengaku kerap menemukan gesekan kecil antarsiswa di sekolahnya — candaan yang kebablasan, ejekan yang dianggap wajar, hingga sikap mengucilkan teman tanpa disadari sebagai bentuk bullying.

Karena itu, saat mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) Kelompok 52 mengajukan program sosialisasi anti-bullying, Syamsudin menyambutnya tanpa ragu. Kegiatan pun digelar Rabu (29/7/2026) menyasar siswa kelas 4 hingga 6.

“Dengan adanya sosialisasi ini, sekolah sangat terbantu dalam membentuk karakter anak sejak dini. Harapan kami, pemahaman ini terus dipraktikkan dalam keseharian mereka di sekolah,” kata Syamsudin.

Dari sisi mahasiswa, Ketua Kelompok 52 menjelaskan bahwa sekolah dasar dipilih sebagai sasaran karena usia ini merupakan fase krusial pembentukan karakter. Menurutnya, banyak tindakan perundungan terjadi bukan karena niat jahat, melainkan ketidaktahuan anak bahwa perbuatannya menyakiti orang lain.

Rangkaian kegiatan disusun agar tidak sekadar menggurui: pemaparan materi diselingi pemutaran video, dilanjutkan sesi renungan yang mengajak siswa jujur pada diri sendiri. Pendekatan reflektif ini rupanya membuka ruang emosi yang tak terduga, termasuk munculnya permintaan maaf spontan dari salah satu siswi kepada teman-temannya.

Foto: Mahasiswa KKN UMMat Bersama Guru dan Siswa-Siswi SDN Seloto

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Bagi pihak sekolah, program semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi kebiasaan yang terus dihidupkan dalam interaksi sehari-hari siswa.(Nin-ks)