OPINI

Penulis : Alfahrozy | Komunitas Anokbongan

Tambang sudah menjadi bagian penting dari sejarah dan ekonomi Sumbawa Barat.
Selama bertahun-tahun, pertambangan Batu Hijau memberikan kontribusi ekonomi yang sangat besar. Bahkan dalam struktur PDRB KSB, sektor pertambangan dan penggalian masih mendominasi secara ekstrem. Data BPS menunjukkan kontribusinya sekitar 84,6% terhadap PDRB KSB pada 2024.

“Apakah tambang bermanfaat?”
Tentu saja tambang sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang ekonomi Sumbawa Barat.
Lalu bagaimana jika era tambang selesai atau pascatambang?
Setelah ekonomi sebesar itu tak lagi ada, manusia seperti apa yang ikut terbentuk di dalamnya?
TO HAVE & TO BE
Menurut seorang psikoanalis dan pemikir humanis, Erich Fromm, manusia dibagi menjadi dua sifat, yaitu “TO HAVE” dan “TO BE”.

To Have (memiliki) adalah jenis manusia atau masyarakat yang mengandalkan apa yang telah ia miliki atau hal yang telah ada di sekitarnya, sehingga apa yang ia miliki dijadikan sebagai identitas orang atau masyarakat tersebut. Kira-kira memunculkan anggapan “saya memiliki semua ini, maka saya adalah seseorang…”
Sementara TO BE (menjadi) adalah jenis seseorang atau masyarakat yang berfokus pada kemampuan yang ia miliki (kemampuan bukan fisik, materi, atau warisan). Dengan kemampuan itu, ia berfokus pada bagaimana menciptakan sesuatu yang baru bermodalkan segala kemampuan yang ia miliki.

Lalu apa hubungan “TO HAVE” dan “TO BE” ala Erich Fromm dengan wajah pemuda Sumbawa Barat dalam menyiapkan era pascatambang?
Saat ini tambang telah dijadikan sebagai identitas masyarakat Sumbawa Barat, artinya Sumbawa Barat sangat mengagungkan dan bergantung pada adanya tambang, yang berarti termasuk dalam golongan masyarakat TO HAVE (memiliki).

Sementara itu, tambang adalah jenis sumber daya alam yang tak dapat diperbarui, artinya suatu keniscayaan bahwa tambang akan berakhir. Lalu jika tambang akan berakhir, masyarakat seperti apakah yang akan terbentuk ketika KSB tidak lagi bergantung pada tambang?
Selama ini kita sebagai masyarakat TO HAVE (yang memiliki) harus beralih menjadi masyarakat yang TO BE (menjadi) ketika era tambang telah usai.

Lalu apa peran pemuda dalam mempersiapkan masyarakat TO BE (menjadi)?

KESIAPAN DALAM MEMPERSIAPKAN ERA PASCATAMBANG

Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat saat ini sedang gencar-gencarnya dengan beberapa program strategis daerah untuk mempersiapkan sosial-ekonomi pascatambang. Beberapa sektor untuk menumbuhkan klaster ekonomi baru non-tambang mulai digagas, mulai dari pariwisata, pertanian, perikanan, peternakan, industrialisasi, dan lain-lain. Terutama di sektor pariwisata, pemerintah KSB sedang gencar-gencarnya membangun ekonomi pariwisata kerakyatan yang akan menjadi klaster ekonomi baru non-tambang. Namun di balik itu, dalam mempersiapkannya sangat minim sekali keterlibatan pemuda di dalamnya. Hal tersebut bisa kita katakan terlambat, karena menurut pernyataan Bupati Sumbawa Barat, tambang akan berakhir kurang dari 10 tahun lagi. Sebab untuk membangun klaster ekonomi baru dan untuk keluar dari bentuk masyarakat yang sudah sangat bergantung pada tambang, 10 tahun bukanlah waktu yang optimal. Menciptakan klaster ekonomi baru membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Lalu apakah kita sesalkan? Tentu menyesal bukanlah satu solusi. Kita harusnya berkontribusi dalam mempersiapkan era pascatambang.

Lalu apa peran pemuda?
Pemuda merupakan golongan masyarakat yang memiliki kreativitas, semangat, pikiran yang segar, dan semangat akan perubahan. Jadi dengan segala kemampuannya, pemuda seharusnya mampu mendukung dalam mempersiapkan klaster ekonomi baru yang tak lagi bergantung pada pertambangan. Sebab dalam waktu yang tak lagi lama, tambang yang ada di Sumbawa Barat akan habis. Saatnya dari sekarang kita harus mempersiapkannya.

Namun melihat kondisi kepemudaan Sumbawa Barat, pemuda Sumbawa Barat tentu belum lepas dari stigma bahwa tambang adalah satu-satunya sumber ekonomi yang menjanjikan. Itu tidak bisa dipungkiri dan memang dapat kita benarkan. Tapi kesiapan dalam mempersiapkan era ketika tambang tak lagi ada adalah tugas penting bagi pemuda Sumbawa Barat. Pemuda harus mampu memikirkan jalan lain untuk mempersiapkan pascatambang.
Namun di balik kondisi pemuda hari ini, dukungan terhadap ruang gerak tumbuh kembang pemuda dalam mengimplementasikan kemampuannya, idenya, dan kreativitasnya sangat minim. Salah satu buktinya, dalam beberapa program pemerintah daerah, tidak ada program yang lebih khusus untuk merangkul pemuda dalam mempersiapkan perekonomian pascatambang. Pemuda sangat jarang dilibatkan.

Maka dari itu kami berkesimpulan bahwa:
Pemuda Sumbawa Barat harusnya mulai peka terhadap kondisi Sumbawa Barat bahwa tambang akan berakhir dan harus kita siapkan klaster-klaster ekonomi baru selain tambang.

Pemerintah KSB dalam program-programnya untuk menciptakan klaster ekonomi baru non-tambang harus merangkul dan memberikan ruang bagi pemuda.

Saat ini kita memang memiliki tambang (TO HAVE) yang menjadi penopang ekonomi kita dan tambang telah menjadi identitas daerah kita. Tetapi tambang tak akan selamanya ada, karena suatu keniscayaan bahwa tambang akan berakhir. Maka dari itu, kita harus mampu berpikir dan bergerak dari sekarang dan mulai menciptakan klaster-klaster baru ekonomi non-tambang (TO BE). Mulai dari sekarang, pemuda Sumbawa Barat harusnya telah bersiap untuk menciptakan wajah baru dan mulai beralih dari wajah lama dengan identitas daerah tambang, dalam menyambut sosial-ekonomi pascatambang.**