TALIWANG, Kanalsumbawa— Kemarau belum menunjukkan dampak besar terhadap tren penyakit di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Di tengah cuaca yang mulai kering dan panas, pemantauan Dinas Kesehatan (Dinkes) sejauh ini belum menemukan lonjakan kasus penyakit yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan KSB, Carlof Sitompul, mengatakan kondisi itu terlihat dari pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Data tersebut menjadi gambaran perkembangan penyakit yang terjadi di masyarakat dari waktu ke waktu.
“Dari hasil pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon, hingga saat ini tidak ada lonjakan penyakit-10/8/26 tersebut,” kata Carlof.
Meski belum ada peningkatan, perubahan cuaca tetap membawa sejumlah risiko. Debu dan udara kering dapat mengganggu saluran pernapasan, sementara suhu panas membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan. Kondisi ini dapat memicu ISPA, influenza, dehidrasi hingga gangguan akibat panas seperti kelelahan, pingsan dan heat stroke.
Kelompok tertentu perlu lebih berhati-hati menghadapi kondisi tersebut. Balita, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis dan masyarakat yang sehari-hari bekerja di luar ruangan memiliki risiko lebih besar ketika terpapar panas dalam waktu lama. Asupan cairan menjadi salah satu hal yang tidak boleh diabaikan.
“Jangan menunggu haus untuk minum, terutama ketika cuaca panas dan aktivitas banyak dilakukan di luar ruangan,” ujar Carlof.
Persoalan kemarau tidak berhenti pada panas dan debu. Ketika air bersih mulai terbatas, kebersihan tangan, makanan, peralatan makan dan sanitasi juga bisa ikut terdampak. Jika tidak dijaga, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko diare dan demam tifoid. Pada saat yang sama, makanan lebih cepat rusak ketika berada dalam suhu panas.
Ada pula gangguan yang mungkin muncul tanpa banyak disadari, seperti mata merah, kering dan gatal akibat udara kering, debu atau polusi. Kulit juga dapat mengalami iritasi akibat paparan lingkungan yang sama.
DBD pun masih perlu diperhatikan meskipun musim kemarau identik dengan minimnya genangan. Saat air menjadi barang yang perlu disimpan, toren, bak atau wadah penampungan di rumah justru bisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti jika tidak ditutup dan dibersihkan secara rutin.
Untuk saat ini, belum adanya lonjakan kasus menjadi kabar baik bagi kondisi kesehatan masyarakat KSB. Namun, perubahan cuaca dan lingkungan membuat pemantauan tetap penting dilakukan. Masyarakat pun diharapkan tidak menunggu sampai muncul gangguan kesehatan untuk mulai menjaga kebersihan air dan makanan, mencukupi kebutuhan cairan, mengurangi paparan panas dan debu, serta memastikan tempat penampungan air tidak menjadi sarang nyamuk.(Nin-ks)







