Kanalsumbawa, Sumbawa Barat – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) terus memperkuat sektor perikanan budidaya sebagai salah satu pilar Program Sumbawa Barat Maju Luar Biasa. Melalui Dinas Perikanan, pemerintah menargetkan produksi ikan budidaya mencapai 40 hingga 50 ton per siklus sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

Kepala Dinas Perikanan KSB, Agus Purnawan, S.Pi., M.M., menjelaskan bahwa program tersebut dirancang dengan pendekatan yang lebih terarah. Sasaran utamanya adalah masyarakat yang telah memiliki lahan budidaya dan aktif menjalankan usaha perikanan, sehingga bantuan yang diberikan dapat menghasilkan manfaat yang optimal.

“Fokus kami adalah pembudidaya yang sudah memiliki usaha berjalan dan siap mengembangkan kapasitas produksinya. Dengan begitu, bantuan yang diberikan benar-benar produktif dan berdampak langsung terhadap peningkatan hasil budidaya,” ujarnya. Selasa 02/06/2026

Dalam pelaksanaannya, pemerintah akan menyalurkan bantuan berupa benih ikan, pakan, serta pendampingan teknis melalui penyuluh perikanan. Adapun komoditas yang menjadi prioritas pengembangan adalah ikan nila dan lele, mengingat tingginya kebutuhan pasar terhadap kedua jenis ikan tersebut.

Dinas Perikanan menargetkan penebaran sekitar 400 ribu ekor benih dalam program ini. Dengan memperhitungkan tingkat kelangsungan hidup ikan hingga masa panen, produksi yang dihasilkan diperkirakan mampu mencapai 40 hingga 50 ton dalam satu siklus budidaya.

Program yang dianggarkan melalui APBD Perubahan Tahun 2026 itu direncanakan mulai direalisasikan pada Agustus hingga September mendatang.

Saat inipemerintah daerah tengah melakukan sosialisasi sekaligus pendataan calon penerima yang memenuhi persyaratan.

Menurut Agus, pengembangan budidaya ikan menjadi langkah penting karena kebutuhan ikan di Kabupaten Sumbawa Barat masih jauh lebih besar dibandingkan produksi yang tersedia. Data Dinas Perikanan menunjukkan daerah ini masih mengalami defisit pasokan ikan sekitar 1.200 ton setiap tahun.

Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, peningkatan produksi budidaya juga diharapkan mampu memasok kebutuhan berbagai program pangan serta sektor industri yang membutuhkan ketersediaan ikan dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Program tersebut akan dikembangkan di sejumlah wilayah potensial. Salah satu kawasan yang diproyeksikan menjadi sentra budidaya adalah Dasan Anyar dengan potensi lahan mencapai sekitar 11 hektare yang akan diarahkan untuk pengembangan nila salin.

Ke depan, Dinas Perikanan juga akan mendorong penerapan teknologi budidaya modern seperti Recirculating Aquaculture System (RAS) guna meningkatkan produktivitas lahan. Teknologi tersebut diharapkan mampu menciptakan usaha perikanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Agus optimistis sektor budidaya ikan dapat menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi masyarakat. Dengan asumsi produksi mencapai 40 ton dan harga jual ikan berada di kisaran Rp25 ribu per kilogram, nilai perputaran ekonomi yang tercipta diperkirakan mencapai miliaran rupiah dalam setiap siklus produksi.

“Potensi ini sangat besar. Jika dikelola secara serius, budidaya ikan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat KSB,” tutupnya. (Nin-ks)