Sumbawa Barat, Kanalsumbawa — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menggelar kegiatan kemping di Kecamatan Brang Ene, Sabtu (8/8/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Mengusung tema “Jalan Perjuangan Pariwisata Kerakyatan”, kegiatan ini dirancang sebagai wadah kolaborasi untuk menghimpun gagasan dan memperkuat sinergi lintas elemen dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Ketua PWI Kabupaten Sumbawa Barat, Khairil Zakaria, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang kebersamaan di alam terbuka, tetapi juga momentum strategis untuk mempertemukan berbagai pihak dalam merumuskan gagasan konkret bagi kemajuan pariwisata daerah.
”Pariwisata kerakyatan tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, pelaku wisata, dan media. Melalui kegiatan ini, kami ingin melihat langsung potensi yang dimiliki Brang Ene, menampung berbagai masukan, dan merumuskannya menjadi rekomendasi kebijakan pariwisata di Sumbawa Barat,” ujar Khairil.
Panitia menetapkan rute kemping yang dimulai dari Desa Menemeng dengan menyusuri jalur persawahan hingga mencapai titik akhir di Kawasan Bendungan Tiu Suntuk, Desa Hijrah, Kecamatan Brang Ene. Rute ini dipilih secara khusus untuk memperkenalkan keindahan bentang alam pedesaan setempat yang menjadi salah satu daya tarik wisata potensial.
Selain diikuti oleh pengurus dan anggota PWI KSB, kegiatan ini juga melibatkan berbagai elemen strategis, di antaranya aktivis lingkungan, Lembaga Adat Tana Samawa (LATS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cordova, pegiat pariwisata, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal.
Di lokasi perkemahan, para peserta akan mengikuti forum diskusi interaktif yang membahas isu-isu penting terkait pengembangan pariwisata kerakyatan. Ruang diskusi meliputi eksplorasi potensi destinasi, pelestarian lingkungan, penguatan peran masyarakat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga kebutuhan infrastruktur dan promosi kawasan wisata.
Esensi dari pariwisata kerakyatan itu sendiri menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dan penerima manfaat terbesar dari aktivitas pariwisata. Dengan pendekatan ini, pengembangan destinasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, melainkan pada pemberdayaan ekonomi warga, pelestarian adat istiadat, serta perlindungan ruang hidup lokal agar roda ekonomi berputar langsung dari bawah.
Melalui konsep tersebut, sektor pariwisata diharapkan mampu menjadi motor penggerak kemandirian desa, di mana keunikan tradisi, produk UMKM lokal, serta keramahan kultur setempat diintegrasikan secara utuh menjadi daya tarik dan daya saing daerah.
Khairil berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi konstruktif yang nantinya diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai acuan dalam menyusun kebijakan pariwisata yang berkelanjutan.
”Harapan kami, kegiatan ini menjadi ruang efektif untuk menyatukan gagasan dan memperkuat kolaborasi. Jika potensi ini dikelola dengan baik, pariwisata kerakyatan akan tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Sumbawa Barat,” pungkasnya. **







