Sumbawa Barat, Kanalsumbawa– Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengkaji pemanfaatan saluran irigasi bendungan sebagai salah satu peluang pengembangan ekonomi berbasis sumber daya lokal. Kajian tersebut diarahkan untuk mendorong sektor perikanan air tawar tumbuh menjadi sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat di luar sektor pertambangan.
Kepala Brida KSB, Mars Anugerainsyah, menjelaskan bahwa langkah tersebut tengah dirumuskan melalui penyusunan *policy brief* atau ringkasan rekomendasi kebijakan. Dokumen ini diharapkan menjadi salah satu landasan ilmiah bagi Bupati KSB dalam menentukan arah kebijakan pengembangan klaster ekonomi baru.
Dalam proses penyusunannya, Brida KSB melakukan kajian mendalam dengan melibatkan pakar dari Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan rencana pemanfaatan saluran irigasi memiliki dasar kajian yang memadai, baik dari sisi potensi ekonomi maupun tata kelola pemanfaatannya.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah pengaturan penggunaan air. Pasalnya, saluran irigasi tersebut berada dalam kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS), sehingga pemanfaatannya untuk kegiatan budidaya perikanan perlu memperhatikan ketentuan yang berlaku.
“Kami bergerak ke sana agar tidak salah mengambil langkah sebagai dasar Pak Bupati dalam membuat kebijakan. Kami menyusun policy brief dari seluruh hasil analisis dan masukan pakar. Regulasi ini penting untuk mencegah konflik kepentingan antara pemanfaat irigasi pertanian dan budidaya perikanan,” ungkap Mars. Jum’at 23/10/26
Menurutnya, kejelasan regulasi menjadi bagian penting agar pemanfaatan saluran irigasi untuk perikanan tidak mengganggu fungsi utamanya dalam mendukung kebutuhan air pertanian. Karena itu, Brida turut mengkaji kemungkinan pengaturan melalui Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Bupati (Perbup).
Dari sisi ekonomi, pengembangan perikanan air tawar dinilai memiliki peluang karena kebutuhan ikan di KSB selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi tersebut membuka ruang bagi pengembangan produksi lokal untuk memenuhi kebutuhan pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sumber daya daerah.
Pemanfaatan saluran irigasi untuk budidaya ikan juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani. Dengan pengelolaan yang tepat dan sesuai ketentuan, kegiatan perikanan dapat memberikan pemasukan di sela masa tanam hingga panen padi, sehingga sumber penghasilan masyarakat tidak hanya bertumpu pada satu komoditas.
Selain budidaya, Brida melihat peluang pengembangan komoditas bernilai tambah, salah satunya ikan gabus. Komoditas ini berpotensi dikembangkan melalui proses hilirisasi untuk menghasilkan albumin yang dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, serta produk olahan pangan. Pengolahan tersebut diharapkan dapat memperluas nilai ekonomi hasil perikanan sekaligus mendorong pemanfaatan bahan baku secara lebih optimal.
Upaya ini juga berkaitan dengan strategi jangka panjang KSB untuk memperkuat sektor ekonomi nonpertambangan. Data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) KSB menunjukkan kontribusi sektor pertambangan yang sebelumnya hampir 80 persen kini berada di kisaran 76 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk mendorong pertumbuhan sektor ekonomi alternatif.
Melalui penyusunan policy brief, Brida KSB mendorong agar pengembangan perikanan air tawar dapat dirancang secara bertahap dan berbasis hasil riset. Selain perikanan, sektor pertanian, perkebunan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta perdagangan lokal juga dipandang memiliki peluang untuk diperkuat sebagai penopang ekonomi daerah yang lebih beragam dan berkelanjutan.(Nin-ks)







