Sumbawa Barat, Kanalsumbawa – Pengembangan perikanan air tawar di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tak hanya berpeluang memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) KSB melihat potensi tersebut melalui pengembangan ikan gabus yang dapat diolah menjadi ekstrak albumin.

Kepala BRIDA KSB, Mars Anugerainsyah, mengatakan pengembangan perikanan air tawar menjadi salah satu peluang untuk menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi lokal. Upaya ini juga berkaitan dengan kebutuhan ikan air tawar di KSB yang selama ini masih dipasok dari luar daerah, termasuk Lombok.

Menurut Mars, potensi yang tersedia di daerah perlu dioptimalkan agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga memiliki peluang lebih besar dalam kegiatan produksi. Salah satu yang dilirik adalah pemanfaatan saluran irigasi Bendungan Bintang Bano dan Tiu Suntuk untuk mendukung pengembangan budidaya ikan air tawar.

Bagi BRIDA KSB, peluang tersebut tidak berhenti pada kegiatan budidaya. Pengolahan hasil panen menjadi produk turunan dinilai dapat memberikan nilai tambah sekaligus memperluas peluang usaha. Ikan gabus menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian karena dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan albumin.

Mars menjelaskan, ikan gabus berpotensi menghasilkan ekstrak albumin yang memiliki nilai jual tinggi. Ia menyebut satu ekor ikan gabus berukuran kecil dapat menghasilkan hingga 60 cc albumin. Sementara itu, menurut keterangannya, harga albumin untuk volume 20 cc dapat mencapai sekitar Rp150 ribu.

“Potensi ikan gabus ini bukan hanya untuk konsumsi. Albuminnya bisa diekstrak dan memiliki nilai ekonomi tersendiri. Daging yang tersisa juga masih dapat diolah menjadi abon, sehingga pemanfaatan ikan bisa lebih maksimal dan tidak banyak bagian yang terbuang,” jelas Mars. Selasa,20/10/26

Selain ikan gabus, ikan betok juga menjadi komoditas yang berpotensi dikembangkan. Ikan lokal tersebut dinilai dapat mendukung ketersediaan pangan sekaligus membuka peluang usaha bagi pembudidaya. Pengembangan kedua komoditas ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor perikanan air tawar di KSB.

Untuk mendukung rencana tersebut, BRIDA KSB mendorong penjajakan kerja sama dengan Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat. Kolaborasi yang direncanakan mencakup pendampingan teknis, penelitian, serta penyusunan regulasi yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan perikanan air tawar.

Mars menyampaikan, salah satu rencana yang tengah dimatangkan adalah pemanfaatan enam hingga tujuh petak lahan di Balai Benih Ikan (BBI) sebagai pusat riset bersama. Pemkab KSB bersama DPRD juga telah melakukan kunjungan kerja ke Universitas Lambung Mangkurat untuk membahas peluang kerja sama penelitian dan pendampingan teknis tersebut.

Di sisi lain, Pemkab KSB juga merencanakan kemitraan dengan PT AMMAN Mineral untuk membuka akses pasar bagi produk olahan perikanan. Langkah ini diharapkan dapat melengkapi upaya pengembangan dari sisi produksi dan pengolahan, sehingga hasil budidaya memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai produk bernilai tambah.

BRIDA KSB melihat keterhubungan antara potensi budidaya, riset, pengolahan, dan pemasaran sebagai bagian penting dalam membangun sektor perikanan air tawar yang produktif. Jika dikembangkan secara terencana dan berkelanjutan, potensi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan pasokan ikan dari luar daerah sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.(Nin-ks)