Sumbawa Barat, Kanalsumbawa – Kepedulian terhadap masa depan daerah tidak selalu harus disampaikan lewat forum resmi. Bagi sebagian anak muda, menulis menjadi salah satu cara untuk menyuarakan pandangan, menyampaikan kritik, sekaligus menawarkan gagasan. Semangat inilah yang terlihat dalam Lomba Opini Hari Sumpah Pemuda 2026 yang digelar Komunitas Literasi Anok Bongan.

Mengangkat tema Pandangan Pemuda untuk Pembangunan Sumbawa Barat, lomba tingkat pelajar dan umum tersebut mengajak generasi muda melihat lebih dekat berbagai persoalan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Puluhan tulisan yang masuk memperlihatkan beragam cara pandang peserta dalam membaca kondisi daerah dan memikirkan arah pembangunannya.

Isu yang diangkat pun cukup beragam. Mulai dari pendidikan, pariwisata, pemberdayaan ekonomi lokal hingga tantangan Sumbawa Barat menghadapi masa pascatambang. Berbagai persoalan itu dituangkan peserta dalam bentuk opini yang tidak hanya berisi pandangan, tetapi juga gagasan dan tawaran solusi.

Seluruh naskah kemudian dinilai oleh dewan juri yang memiliki kompetensi di bidang literasi dan pembangunan daerah. Puncak kegiatan sekaligus pengumuman pemenang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026.

Ketua Komunitas Literasi Anok Bongan mengatakan, lomba ini digelar untuk mendorong anak muda lebih peduli terhadap perkembangan daerahnya. Menurutnya, pemuda memiliki ruang untuk ikut memikirkan masa depan Sumbawa Barat, terlebih ketika daerah mulai dihadapkan pada tantangan pembangunan pascatambang.

Ia berharap anak muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi berani menyampaikan pemikiran dan mengambil bagian dalam perubahan. Tulisan opini menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan kepedulian tersebut dengan gagasan yang bisa dibaca dan didiskusikan bersama.

Apresiasi juga datang dari Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disparpora KSB, Riski Syahputra, S.Tp., yang membuka kegiatan tersebut. Ia menilai inisiatif komunitas seperti Anok Bongan penting karena menyediakan ruang bagi pemuda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menyampaikan aspirasi.

Ia berharap kegiatan semacam ini tidak hanya ramai saat peringatan hari besar, tetapi dapat berlanjut menjadi ruang bertukar pikiran dan menyampaikan gagasan tentang berbagai persoalan di daerah.

Suasana malam puncak semakin hidup ketika sejumlah finalis membacakan esai pilihan mereka. Diskusi interaktif yang digelar juga memberi kesempatan kepada peserta dan pengunjung untuk mendalami berbagai pandangan yang muncul dari tulisan para peserta.

Pesan tentang peran pemuda turut disampaikan Fidlia Mae Sarah, M.Pd., dari Yayasan Bale Para, dalam orasi ilmiahnya. Ia mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti sebagai peringatan tahunan yang hanya dikenang lewat seremoni.

Menurutnya, semangat Sumpah Pemuda perlu hadir dalam bentuk solidaritas, kepedulian terhadap persoalan sosial, kemampuan membangun jejaring, serta keberanian menyuarakan kebenaran di tengah maraknya disinformasi dan tantangan yang dihadapi generasi muda.

Selain lomba opini dan diskusi, kegiatan tersebut juga diramaikan dengan monolog Surat Kartini oleh Putri Khusnul Khotimah, puisi beruntun dari Komunitas Sumbawa Produktif, penampilan reporter SMAN 1 Taliwang, serta pertunjukan band anak muda Sumbawa Barat.

Bagi Anok Bongan, lomba ini diharapkan tidak berhenti pada pengumuman pemenang. Tulisan-tulisan yang dihasilkan peserta diharapkan tetap menjadi bahan bacaan dan percakapan, sekaligus memperkaya sudut pandang masyarakat dalam melihat pembangunan daerah.

Sebab, membangun Sumbawa Barat bukan hanya urusan mereka yang berada di lingkaran pemerintahan. Anak muda juga punya ruang untuk menyumbangkan pemikiran. Salah satunya lewat tulisan yang berani mengangkat persoalan dan menawarkan jalan keluar.(Maesa-ks)