Sumbawa Barat, Kanalsumbawa – Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tancap gas mempromosikan potensi daerah. Bersama Komunitas Sumbawa Produktif dan 25 Duta Bahasa Nusa Tenggara Barat (NTB), Disparpora menggelar Nature Trip Sumbawa Barat selama tiga hari.
Kegiatan eksplorasi yang memadukan wisata alam, budaya dan literasi itu berlangsung sejak Jumat hingga Minggu, 21-23 Agustus 2026. Para peserta diajak menyusuri sejumlah destinasi unggulan di Bumi Pariri Lema Bariri.
Kepala Disparpora KSB, H. Nurdin Rahman mengatakan, pelibatan Duta Bahasa NTB bukan tanpa alasan. Mereka diharapkan menjadi corong promosi yang efektif, terutama melalui kekuatan literasi dan konten digital.
“Kita ingin promosi pariwisata tidak hanya lewat brosur, tapi lewat cerita. Duta Bahasa ini punya kemampuan storytelling yang kuat. Harapannya mereka bisa menceritakan pengalaman otentik selama di Sumbawa Barat kepada publik yang lebih luas,” ujar Nurdin.
Rangkaian Nature Trip dimulai dari kawasan Bintang Bano. Pada hari pertama, Jumat (21/8), peserta menginap dan berkemah di Bungalow Bintang Bano. Lokasi ini dipilih sekaligus untuk memperkenalkan aset bungalow milik Pemerintah Daerah yang dalam waktu dekat akan dikelola oleh BUMDes Desa Bangkat Monteh.
Di lokasi yang sama, digelar diskusi tematik bersama Bupati Sumbawa Barat H. Amar Nurmansyah. Mengusung tema Pariwisata Kerakyatan, Bupati menekankan arah pembangunan pariwisata KSB harus berpihak pada masyarakat.
Bupati menegaskan, setiap destinasi yang dikembangkan harus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga desa. Mulai dari pengelolaan homestay, kuliner lokal, hingga pemandu wisata harus melibatkan warga setempat.
Memasuki hari kedua, Sabtu (22/8), peserta diajak menjelajahi Kecamatan Brang Rea. Empat destinasi disisir dalam satu hari, yakni Bendungan Bintang Bano, mata air Ai Mual, Air Terjun Petung Mampis, dan Gua Mumber.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyelami sisi budaya. Rombongan bergeser ke Desa Kertasari untuk menyaksikan Festival Ballona. Puncaknya, peserta menonton langsung tradisi Barapan Kebo di Desa Kelanir yang berlangsung meriah.
“Kami tidak hanya ingin menunjukkan indahnya alam, tapi juga kuatnya budaya kami. Festival Ballona dan Barapan Kebo adalah identitas Sumbawa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain,” tambah Nurdin.
Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta Nature Trip diwajibkan membuat karya kreatif. Mereka akan memproduksi konten digital dan tulisan bercerita (storytelling) tentang kesan selama tiga hari berada di Sumbawa Barat.
Disparpora optimistis, kolaborasi lintas komunitas ini menjadi model promosi baru yang lebih emosional dan menjangkau generasi muda. Dengan jangkauan media sosial Duta Bahasa NTB, potensi wisata alam dan budaya KSB diyakini mampu menarik minat wisatawan nusantara hingga mancanegara.**







